Buku Hijau di Toko Itu Membawanya Menuju Syahadat

- Minggu, 25 Januari 2026 | 07:00 WIB
Buku Hijau di Toko Itu Membawanya Menuju Syahadat

Dia cuma bilang, "Santai saja. Jangan terburu-buru."

Bulan-bulan berlalu. Aku tetap baca. Banyak buku yang kubaca justru karya non-Muslim, seperti Karen Armstrong. Aku juga baca kritik terhadap Islam. Tentang terorisme, bentrokan peradaban, dan sebagainya.

Namun, untuk setiap pertanyaan, Islam punya jawaban yang meyakinkan. Nggak selalu Muslim yang kujumpai bisa jawab dengan meyakinkan, tapi buku-buku itu memberi pencerahan. Di akhir Ramadan berikutnya, aku kembali ke masjid bayar zakat.

Bendahara itu mengenaliku. Dia tanya lagi, "Sudah Muslim?"

"Belum, Pak. Tapi kan Bapak bilang santai saja?"

Dia geleng-geleng kepala pelan, lalu tersenyum. "Iya, santai. Tapi jangan terlalu santai juga."

Tahun itu jadi tahun terakhirku sebagai non-Muslim. Aku berhenti minum alkohol. Berhenti merokok. Aku coba dorong diri sendiri dan orang lain untuk berbuat baik. Aku liburan ke Turki, kunjungi masjid-masjid besar. Dengan setiap langkah, kehadiran Tuhan dalam hidupku semakin terasa nyata.

Aku pergi ke alam. Untuk pertama kalinya, pemandangan di depanku bukan sekadar pemandangan, tapi tanda-tanda Sang Pencipta. Aku coba-coba shalat, meski caranya masih jauh dari benar. Aku tetap baca, dan sekarang juga mulai jelajahi internet.

Di Hives, media sosial populer Belanda waktu itu, seorang mualaf wanita menghubungiku. Dia tanya apakah aku Muslim. "Belum," jawabku. Dia mengajakku ke rumahnya, bertemu suaminya yang Muslim asal Mesir, yang taat.

Kami makan malam, lalu ngobrol tentang Islam hampir sepanjang malam. Saat kunjungan kedua, atas permintaanku, dia mengajarkanku cara shalat yang benar.

Aku coba praktikkan sebisaku. Dia memperhatikan. Saat jeda, dia bertanya, "Jadi, menurutmu, apakah kamu sudah siap untuk melakukan ini?"

"Ya," jawabku. "Kurasa aku siap."

Di situlah aku sadar. Aku sudah menjadi Muslim. Secara resmi belum, karena syahadat belum diucapkan. Tapi di suatu titik dalam tahun-tahun sebelumnya, hatiku sudah beriman. Sudah percaya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya. Aku sudah puasa, bayar zakat, dan coba shalat.

Jalanku menuju Islam adalah jalur teori. Lewat buku. Pilihan rasional, bukan emosional. Aku bandingkan informasi, aku renungkan. Dan Islam selalu punya jawaban.

Satu dua minggu kemudian, aku dan dia pergi ke masjid di kotanya. Imam sudah tahu kedatanganku. Ayahku ikut, bawa kamera. Imam membacakan syahadat perlahan. Aku ikuti, kata demi kata. Saat Imam berdoa, saudaraku dari Mesir itu menerjemahkannya ke telingaku.

Rasanya seperti baru saja lari maraton dan mencapai garis finish. Benar-benar kehabisan napas. Perlahan napasku kembali teratur. Tenang. Dan bahagia. Tiba-tiba aku sadar, akhirnya, aku telah menjadi Nourdeen. Cahaya agama.

Beberapa waktu setelahnya, aku ke masjid di kotaku. Saat masuk, bendahara itu kembali kujumpai. Dia menatapku, lalu bertanya lagi pertanyaan yang sama.

"Ya, Pak. Saya Muslim. Nama saya Nourdeen," jawabku sambil tersenyum lebar.

"Alhamdulillah," katanya. Lalu, dengan nada akrab, dia menambahkan, "Akhirnya."


Halaman:

Komentar