Konflik Timur Tengah Ancam Pasokan Pupuk Global via Selat Hormuz

- Kamis, 12 Maret 2026 | 07:00 WIB
Konflik Timur Tengah Ancam Pasokan Pupuk Global via Selat Hormuz

Ancaman perang di Timur Tengah kembali mengguncang pasar komoditas global. Kali ini, yang jadi sorotan adalah pasokan pupuk dunia. Konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel disebut-sebut bakal memicu gangguan besar, terutama karena Selat Hormuz jalur air vital kini praktis lumpuh.

Menurut analisis terbaru dari CoBank, situasi ini bakal paling terasa di pasar nitrogen dan fosfat. Faktanya, tiga dari sepuluh eksportir urea terbesar di dunia bergantung pada selat itu. Begitu juga dengan tiga eksportir amonia utama, plus satu dari lima pengekspor DAP-MAP. Intinya, lalu lintas pupuk global sangat bergantung pada titik rawan ini.

Jacqui Fatka, Ekonom Utama CoBank, membeberkan kekhawatirannya. Produk yang seharusnya berlayar melalui Timur Tengah sekitar pertengahan Maret ini, rencananya tiba di Amerika Utara tepat untuk musim tanam yang dimulai bulan depan.

"Sekarang, semuanya berisiko terlambat," ujarnya.

Fatka menambahkan, kondisi ini datang di saat yang buruk bagi banyak petani. Mereka sudah menghadapi tekanan ekonomi dan biaya input yang melambung tinggi sejak lama.

"Banyak petani memasuki musim semi ini dalam posisi yang kurang menguntungkan terkait pupuk. Menunggu penurunan harga pupuk merupakan pertaruhan yang berbahaya," tegas Fatka.

Memang, akar masalahnya ada di Selat Hormuz. Ancaman serangan dari Iran membuat kapal-kapal enggan melintas. Ini semua berawal dari eskalasi perang antara AS dan Israel dengan Teheran yang memanas akhir bulan lalu. Jalur perdagangan yang biasanya sibuk, kini sepi dan mencekam.

Jadi, apa dampaknya? Harga pupuk yang sudah tinggi bisa meroket lagi. Dan kelangkaan pasokan di pasar global bukan lagi sekadar ancaman, tapi kenyataan yang perlahan mulai terasa.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar