Ancaman perang di Timur Tengah kembali mengguncang pasar komoditas global. Kali ini, yang jadi sorotan adalah pasokan pupuk dunia. Konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel disebut-sebut bakal memicu gangguan besar, terutama karena Selat Hormuz jalur air vital kini praktis lumpuh.
Menurut analisis terbaru dari CoBank, situasi ini bakal paling terasa di pasar nitrogen dan fosfat. Faktanya, tiga dari sepuluh eksportir urea terbesar di dunia bergantung pada selat itu. Begitu juga dengan tiga eksportir amonia utama, plus satu dari lima pengekspor DAP-MAP. Intinya, lalu lintas pupuk global sangat bergantung pada titik rawan ini.
Jacqui Fatka, Ekonom Utama CoBank, membeberkan kekhawatirannya. Produk yang seharusnya berlayar melalui Timur Tengah sekitar pertengahan Maret ini, rencananya tiba di Amerika Utara tepat untuk musim tanam yang dimulai bulan depan.
"Sekarang, semuanya berisiko terlambat," ujarnya.
Artikel Terkait
IRGC Ancam Blokade Total Selat Hormuz, Harga Minyak Bisa Tembus USD 200 per Barel
Bank BJB Dorong Ekonomi Regional Lewat Event Lari 4 Kota di Jawa
Saudi Aramco Catat Laba Bersih USD 104,7 Miliar pada 2025, Lampaui Proyeksi Analis
Lebaran 2026: Lebih dari 2,5 Juta Tiket Kereta Api Terjual, Masih Tersedia 1,9 Juta Kursi