Goldman Sachs: Belanja Modal AI Raksasa Teknologi Bisa Tembus Rp17.000 Triliun pada 2027

- Kamis, 11 Juni 2026 | 16:35 WIB
Goldman Sachs: Belanja Modal AI Raksasa Teknologi Bisa Tembus Rp17.000 Triliun pada 2027

Pelaku pasar di Wall Street sepanjang tahun lalu sibuk memperdebatkan kapan gelombang belanja besar-besaran untuk kecerdasan buatan (AI) akan mulai surut. Namun, proyeksi terbaru justru menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan teknologi raksasa belum menunjukkan tanda-tanda akan mengerem investasi mereka di bidang tersebut.

Dalam sebuah catatan analisis yang dirilis pada Rabu (10/6/2026), para analis Goldman Sachs menyatakan bahwa perusahaan teknologi raksasa, yang kerap disebut sebagai hyperscaler, kemungkinan besar akan menggelontorkan dana lebih besar untuk AI dibandingkan ekspektasi pasar saat ini. Hal ini terjadi meskipun sebelumnya telah terjadi serangkaian revisi besar-besaran ke atas terhadap perkiraan belanja modal.

"Perkiraan konsensus belanja modal hyperscaler pada 2027 terlalu konservatif," tulis para analis tersebut.

Goldman Sachs memperkirakan bahwa total belanja modal hyperscaler dapat mencapai sekitar 1,1 triliun dolar AS pada 2027. Angka ini lebih tinggi dibandingkan perkiraan Wall Street yang berada di kisaran 920 miliar dolar AS. Dalam skenario yang lebih optimistis, pengeluaran untuk AI bahkan bisa melonjak hingga 1,4 triliun dolar AS.

Asumsi utama di balik proyeksi ini adalah bahwa permintaan terhadap daya komputasi AI masih berada pada tahap awal. Goldman memperkirakan konsumsi token unit pemrosesan dalam model AI akan meningkat 24 kali lipat hingga tahun 2030, sebagian besar didorong oleh meningkatnya penggunaan agen perusahaan (enterprise agents).

Semakin banyak token yang diproses, semakin besar daya komputasi yang dibutuhkan. Hal ini pada gilirannya memicu permintaan akan pusat data, chip, peralatan jaringan, dan infrastruktur kelistrikan. "Biaya input yang lebih tinggi juga memberikan tekanan ke atas pada nilai nominal belanja modal yang dibutuhkan untuk mendukung sejumlah konsumsi token tertentu," tulis para analis.

Di sisi lain, catatan tersebut juga menyoroti sejumlah risiko. Beberapa perusahaan baru-baru ini menandai adanya peningkatan pengeluaran token yang terkait dengan alat AI. Kondisi ini memunculkan pertanyaan apakah peningkatan produktivitas pada akhirnya akan mampu melampaui biaya operasional dari model-model AI yang semakin canggih.

Ketegangan ini mencerminkan perdebatan yang lebih luas di kalangan perusahaan Amerika. Banyak dari mereka yang menggelontorkan dana secara agresif untuk AI, namun masih kesulitan membuktikan adanya pengembalian investasi yang jelas.

Salah satu sinyal terkuat yang mendukung pandangan optimistis Goldman Sachs justru datang dari penyedia layanan cloud itu sendiri. Google Cloud dan Amazon Web Services, misalnya, melaporkan total pesanan yang belum terselesaikan (backlog) sebesar 832 miliar dolar AS pada kuartal pertama. Angka ini melonjak dari 358 miliar dolar AS hanya dalam waktu enam bulan sebelumnya.

Meski demikian, para analis memperkirakan bahwa keseimbangan antara pasokan dan permintaan AI belum akan tercapai setidaknya hingga paruh kedua 2027. Hal ini mengindikasikan bahwa belanja modal dapat tetap tinggi lebih lama dari perkiraan investor.

Goldman juga berpendapat bahwa sejarah menunjukkan investor kerap meremehkan seberapa besar pembangunan infrastruktur yang dapat terjadi. Investasi terkait AI diperkirakan mencapai sekitar 1,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2026. Sebagai perbandingan, ledakan investasi yang terkait dengan kereta api, elektrifikasi, dan mobil pada masanya mencapai puncak sekitar 2 hingga 3 persen dari PDB.

Menariknya, hambatan terbesar untuk pengeluaran AI di masa depan bukanlah soal pendanaan. "Pembiayaan kemungkinan besar bukanlah kendala utama. Sebaliknya, hambatan yang lebih besar mungkin bersifat fisik," tulis para analis. Banyak proyek pusat data yang tertunda, sementara ketersediaan memori, daya listrik, dan tenaga kerja telah diidentifikasi sebagai kendala dalam pembangunan belanja modal.

Goldman Sachs menyatakan bahwa pengeluaran modal yang lebih kuat dari perkiraan akan terus mendukung pertumbuhan pendapatan bagi perusahaan-perusahaan yang terkait dengan pengembangan AI, termasuk produsen semikonduktor, peralatan jaringan, sistem pendingin, dan pemasok daya.

Namun, bank investasi tersebut juga memperingatkan bahwa sebagian sektor perdagangan mulai semakin ramai. Valuasi banyak saham infrastruktur AI telah meningkat pesat dalam beberapa bulan terakhir. Harga saham bahkan melampaui revisi pendapatan di beberapa bagian sektor, sehingga meningkatkan risiko volatilitas.

Pada saat yang sama, bukti nyata mengenai peningkatan produktivitas yang didorong oleh AI secara luas masih terbatas. Menurut analisis Goldman, meskipun 54 persen perusahaan membahas produktivitas AI selama panggilan pendapatan kuartal pertama, hanya 11 persen yang mengukur manfaat produktivitas secara spesifik. Lebih sedikit lagi, yakni hanya 2 persen, yang benar-benar mengukur dampaknya terhadap pendapatan.

Catatan Goldman Sachs ini muncul di tengah aksi jual saham teknologi dalam beberapa hari terakhir, serta kekhawatiran akan ketegangan geopolitik di Iran dan prospek suku bunga yang masih belum pasti.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar