Atas jasanya, kedua anggota yang gugur itu mendapat penghormatan. Atas arahan Kapolri Jenderal Listyo Sigit, mereka diberikan kenaikan pangkat dan penghargaan.
Kunjungan Wapres dan Perhatian untuk Pengungsi
Wakil Presiden Gibran Rakabuming turun langsung ke lokasi pada hari Minggu. Ia meninjau posko pengungsian, fasilitas kesehatan, hingga dapur umum di Kecamatan Cisarua. Gibran juga menyempatkan diri berdialog dengan para pengungsi untuk mendengar langsung keluhan mereka.
“Saya turut prihatin kepada bapak dan ibu semua atas terjadinya bencana longsor ini,” kata Gibran. “Saya sudah meminta kepada pemerintah daerah dan juga tim gabungan untuk penanganan korban dan pengungsi terutama anak kecil, lansia, dan ibu hamil.”
Ia menekankan pentingnya evaluasi dan langkah mitigasi di wilayah rawan. Tujuannya jelas: mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan. Koordinasi antara pusat dan daerah, kata dia, akan terus diperkuat untuk penanganan pascabencana.
83 Orang Masih Dicari, Penanganan Bertahap
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno, yang mendampingi Wapres, menyampaikan kabar yang membuat hati miris. “Ada sekitar 83 warga yang masih dalam pencarian,” ujarnya.
Operasi SAR, menurutnya, dijalankan 24 jam non-stop. “Kami saat ini mengutamakan yang pertama adalah penyelamatan jiwa,” tegas Pratikno. Penanganan korban, mulai dari identifikasi hingga penyerahan jenazah, juga diupayakan semaksimal dan sehormat mungkin.
Penanganan bencana ini sendiri sudah dibagi dalam beberapa tahap. Mulai dari operasi SAR, pengerahan tim kesehatan, pemenuhan logistik, perlindungan sosial, hingga penanganan infrastruktur yang rusak.
Trauma yang Membayangi Ibu-Ibu Pengungsi
Di balik kebutuhan fisik, ada luka lain yang menganga: trauma. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi yang juga berkunjung menemui fakta ini. Banyak dari pengungsi, khususnya ibu-ibu, mengalami goncangan psikologis yang berat.
“Kalau tadi kita diskusi, berbicara dengan ibu-ibu yang ada di situ terlihat sekali bahwa mereka mengalami trauma yang sangat berpengaruh,” kata Arifah, Minggu (25/1). Beberapa di antaranya bahkan sedang dalam kondisi hamil.
Kementerian PPPA berjanji akan memberikan dukungan. “Kami tentunya akan berkoordinasi dengan berbagai pihak bagaimana layanan dukungan psikososial, trauma healing ini bisa kita lakukan bersama-sama,” pungkasnya. Upaya memulihkan mental korban, terutama para ibu, menjadi perhatian berikutnya yang tak kalah penting.
Artikel Terkait
Jalanan Jakarta Berubah Jadi Medan Ranjau Usai Hujan Deras
Buni Yani: Dari Pahlawan Al-Maidah ke Terlupakan
Davos dan Genangan: Saat Kepemimpinan Global Terasa Sejauh Swiss dari Gang Becek
Diplomasi Prabowo di Tengah Badai Palestina dan Polemik Forum Trump