Tapi ia tak mau berhenti di situ. Visinya jauh ke depan. Wilayah bekas longsor ini dinilainya sudah tidak layak huni. Relokasi warga ke tempat yang lebih aman adalah keharusan. Itu satu-satunya cara menjamin keselamatan mereka ke depannya.
Langkah berikutnya? Reboisasi. Menanam kembali pohon-pohon berakar kuat untuk mengikat tanah. Tanpa itu, kata Tito, risiko longsor berulang akan selalu mengintai.
“Ini harus direboisasi, ditanam. Tanaman-tanaman yang akarnya yang keras, supaya struktur tanahnya bisa menguat kembali,” tegasnya.
“Kalau kembali lagi nanti akan longsor lagi.”
Lebih dari sekadar penanganan satu lokasi, peristiwa Pasirlangu ini harus jadi pelajaran berharga. Bagi Tito, ini alarm keras untuk seluruh daerah di Indonesia. Pentingnya tata ruang yang kuat dan pemetaan wilayah rawan bencana tak boleh lagi diabaikan.
“Ini juga menjadi pelajaran bagi kita untuk daerah-daerah lain, untuk memperkuat tata ruang. Daerah-daerah rawan seperti ini harus kita petakan,” katanya.
Pemetaan itu, lanjutnya, harus dilakukan secara nasional dan menyeluruh. Setiap Bupati, Wali Kota, dan Gubernur diminta proaktif mengidentifikasi kerawanan di wilayahnya masing-masing. Tujuannya jelas: mengantisipasi bencana hidrometeorologi di masa datang.
“Setiap Bupati, Wali Kota, Gubernur harus kita petakan secara nasional,” tandas Tito.
“Untuk kita memikirkan potensi kalau terjadi kerawanan hidrometeorologi seperti ini, hujan lebat, hujan deras.”
Artikel Terkait
Kiai Didin Pertanyakan Niat AS Bentuk Dewan Perdamaian Palestina
Whip Pink, Tren Kuliner yang Berubah Jadi Pembunuh Diam-diam
Generasi AI dan Ilusi Penguasaan: Ketika Pendidikan Kehilangan Martabat Berpikir
DJ Dinar Candy Bongkar Modus Podgeter, Vape Palsu Berisi Narkoba di Dunia Malam