Minggu lalu, suasana di Desa Pasirlangu, Bandung Barat, masih muram. Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian hadir di tengah reruntuhan tanah longsor, menyaksikan langsung dampak bencana yang merenggut nyawa itu. Dari inspeksi lapangan inilah, Tito menyerukan langkah serius. Ia mendesak agar relokasi warga dan penataan ruang di kawasan rawan bencana dipercepat. Bagi dia, ini adalah solusi jangka panjang yang tak bisa ditawar lagi.
“Saya turut berduka,” ujar Tito, suaranya terdengar berat.
“Atas musibah ini, ada yang wafat, kemudian juga ada yang masih hilang dalam pencarian.”
Keprihatinannya jelas terasa. Namun begitu, ia juga mencoba menganalisis akar masalahnya. Hujan deras memang pemicu, tapi bukan satu-satunya. Struktur tanah di wilayah perbukitan itu sendiri sudah bermasalah gembur dan kurang kokoh. Beban sedikit saja bisa membuatnya amblas.
Di sisi lain, ada faktor lain yang memperparah keadaan. Perubahan lanskap di bukit-bukit sekitar. Dulu, tanaman keras berakar kuat mendominasi. Kini, banyak yang beralih fungsi jadi lahan hortikultura dan sayur-mayur.
“Tanaman pelindungnya yang akarnya menancap ke dalam ya, yang bisa memperkuat struktur tanah itu, banyak berganti hortikultura,” jelasnya.
“Nah itu membuat rentan sekali kalau terjadi hujan deras.”
Untuk saat ini, fokus utama tetap pada penanganan darurat. Pencarian korban hilang dan pemenuhan kebutuhan dasar warga yang terdampak jadi prioritas. Tito mengapresiasi kerja sama yang terjalin. Semua pihak, mulai dari Pemda, TNI-Polri, hingga relawan dan pemerintah pusat, terlihat bergerak bersama.
“Dari Pak Gubernur, kemudian dari Pak Bupati, jajaran, TNI, Polri, relawan, pemerintah pusat, semua bergerak untuk membantu,” ungkapnya.
Artikel Terkait
Kiai Didin Pertanyakan Niat AS Bentuk Dewan Perdamaian Palestina
Whip Pink, Tren Kuliner yang Berubah Jadi Pembunuh Diam-diam
Generasi AI dan Ilusi Penguasaan: Ketika Pendidikan Kehilangan Martabat Berpikir
DJ Dinar Candy Bongkar Modus Podgeter, Vape Palsu Berisi Narkoba di Dunia Malam