Tim SAR Bertahan di Medan Sulit, Relokasi Warga Cisarua Mulai Dirancang

- Minggu, 25 Januari 2026 | 17:06 WIB
Tim SAR Bertahan di Medan Sulit, Relokasi Warga Cisarua Mulai Dirancang

Upaya pencarian di lokasi longsor Cisarua, Bandung Barat, tak kunjung henti. Di tengah medan yang sulit, tim gabungan terus berusaha menemukan para korban. Kepala Basarnas, Marsdya M Syafii, menegaskan komitmen itu. Berbagai kemampuan personel dikerahkan untuk memaksimalkan operasi.

Tak tanggung-tanggung, 250 personel terlatih sudah berada di lapangan. Bahkan, masih ada cadangan 450 orang lagi yang terdaftar dan siap membantu jika diperlukan. Jumlah itu menunjukkan betapa seriusnya upaya penyelamatan ini.

Syafii menjelaskan lebih rinci soal sarana yang digunakan. "Operasi SAR ini akan menggunakan dua unsur," ujarnya.

"Pertama, unsur udara yang melibatkan drone. Ada 12 unit yang akan kita gunakan. Lalu unsur darat, mulai dari personel sampai alat berat, juga sudah tergelar semua," kata Syafii usai mendampingi Wapres Gibran Rakabuming Raka di lokasi pengungsian, Minggu (25/1).

Namun begitu, tantangan di lapangan nyata adanya. Syafii mengakui, penggunaan alat berat belum bisa maksimal. Struktur tanah longsoran yang masih empuk dan labil menjadi kendala utama. Meski begitu, proses pencarian sama sekali tak akan dikurangi intensitasnya.

"Kita juga sudah mengerahkan tim K-9 dari TNI dan Polri hari ini. Harapannya, mereka bisa membantu proses penemuan korban," tambahnya.

Ia juga berharap cuaca bersahabat. "Sudah dilaksanakan operasi modifikasi cuaca. Mudah-mudahan ini bisa membantu kerja tim di lapangan," harap Syafii.

Menyiapkan Tempat Tinggal Baru

Di sisi lain, persoalan tak cuma soal pencarian. Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, yang berada di lokasi sama, bicara soal dukungan jangka panjang untuk korban. Fokusnya adalah memastikan kebutuhan mereka terpenuhi, termasuk soal tempat tinggal.

Relokasi warga terdampak menjadi salah satu opsi yang disiapkan. "Untuk masyarakat di pengungsian sementara ini, ada dua pilihan," jelas Suharyanto.

"Bisa kita buatkan hunian sementara, atau mereka tinggal bersama sanak saudara terlebih dahulu," ucapnya.

Pola ini sebenarnya tidak baru. Menurut Suharyanto, penanganan serupa pernah diterapkan pasca-bencana di Sumatera. Relokasi bisa dilakukan terpusat di lahan yang disiapkan pemerintah. Alternatifnya, warga bisa mencari lahan sendiri yang mereka inginkan, tentu dengan pertimbangan keamanan.

"Tadi Bapak Wapres juga mengingatkan, carilah lahan yang benar-benar aman. Kita didampingi Badan Geologi dan Pusat Mitigasi Bencana Geologi di sini. Mereka akan menilai titik-titik yang masih layak huni," tutur Suharyanto.

Perhatian juga diberikan pada warga yang rumahnya belum terdampak, tetapi lokasinya rawan. "Mereka yang tidak terdampak langsung tapi tinggal di zona rawan, itu juga harus kita tindaklanjuti. Apakah masih boleh tinggal di situ? Meski sekarang aman, bisa saja hanya menunggu waktu. Kalau memang berisiko, harus direlokasi juga," tegasnya.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar