“Negara yang mengakui hasil pemilu ini, sadar atau tidak, ikut serta melegitimasi kekuasaan junta,” katanya, seperti dilaporkan AFP.
Meski situasinya suram, beberapa warga tetap datang. Seperti Zaw Ko Ko Myint, seorang guru di Mandalay. Ia mengaku tak punya harapan besar, tapi tetap memilih.
“Walaupun saya tidak mengharapkan banyak, kami ingin melihat negara yang lebih baik,” ujarnya.
Perasaan serupa diungkapkan seorang warga Yangon. Suaranya terdengar lelah dan pasrah.
“Saya tidak mengharapkan apa pun dari pemilu ini. Semuanya akan terus berlarut-larut,” katanya.
Suasana Mencekam di Tengah Konflik
Pemungutan suara ini jelas tidak merata. Menurut AP News, tidak ada pemungutan suara di wilayah-wilayah yang dikuasai kelompok pemberontak. Sementara di daerah yang masih bisa dikontrol junta, suasana intimidasi sangat terasa. Lembaga HAM melaporkan banyak kritik dibungkam, dan warga yang menentang pemilu bisa langsung diciduk.
Sejak kudeta 2021, Myanmar praktis terperosok dalam perang saudara. Junta berhadapan dengan kelompok pro-demokrasi dan juga pasukan etnis bersenjata. Konflik yang tak kunjung reda ini sudah menelan korban jiwa sangat besar diperkirakan lebih dari 90 ribu orang tewas. Di tengah kondisi seperti ini, partisipasi pemilih pada pemilu kali ini pun jauh merosot dibanding pemilu bebas tahun 2020. Suasana takut dan putus asa jelas lebih dominan daripada harapan.
Artikel Terkait
Anggota DPRD Kudus Divonis Kerja Sosial, Hukuman Pertama di Era KUHP Baru
Sign: Drama Forensik Lawas yang Jadi Cikal Bakal Thriller Medis Korea
Prabowo Curi Waktu dengan Zidane di Davos, Bahas Mimpi Besar Sepakbola Indonesia
Tito Karnavian Desak Relokasi dan Reboisasi Usai Longsor Pasirlangu