Jakarta – Menanggapi kemungkinan keikutsertaan Indonesia dalam Dewan Perdamaian Gaza bentukan Donald Trump, pengamat Hubungan Internasional UI, Shofwan Al-Banna Choiruzzad, punya pandangan tegas. Intinya, kalau sudah terlanjur gabung, Indonesia harus bisa mengubah dinamika di dalamnya. Tidak boleh cuma numpang nama.
“Jika Indonesia tidak bisa keluar dan terlanjur bergabung, pastikan bahwa Indonesia mampu mengubah ‘permainan’ di dalam Dewan Perdamaian Gaza yang dibentuk oleh Trump,” tegas Shofwan, seperti dikutip dari ANTARA, Sabtu lalu.
Pria yang meraih gelar doktor dari Jepang ini khawatir. Menurutnya, posisi Indonesia jangan sampai jadi subordinat, apalagi sekadar mengikuti kemauan Washington. Prinsip politik luar negeri yang bebas aktif jangan sampai tergerus.
“Indonesia tidak justru menjadi antek-antek Trump,” ujarnya lagi.
Ia bahkan menyoroti kemungkinan lain yang lebih mengkhawatirkan. “Apalagi dijadikan satpam untuk mengamankan proyek real estate dalam bentuk pengiriman pasukan untuk Pasukan Stabilisasi Internasional.”
Di tengah situasi geopolitik global yang carut-marut, sikap seperti ini dinilainya krusial. Apalagi, tindakan AS sendiri kerap dianggap melanggar kesepakatan internasional. Maka, konsistensi adalah kunci.
Artikel Terkait
Dokter Tifa Sebut Kasus Ijazah sebagai Penipuan Terbesar dalam Sejarah
Hujan Deras di Lereng Slamet Picu Longsor dan Banjir Bandang, Satu Warga Tewas
Tom Morello dan Gelombang Amuk Publik: Amerika di Ambang Ledakan Sosial
Keluarga dan Rekan KKP Lepas Yoga Naufal, Korban Kecelakaan Pesawat, di Tengah Isak Tangis