Shofwan mengingatkan pentingnya merujuk pada sikap resmi pemerintah. Ia menunjuk pidato Presiden Prabowo Subianto di Majelis Umum PBB, September silam. Saat itu, Prabowo mengajak dunia internasional menolak doktrin “yang kuat berbuat sewenang-wenang”.
“Thucydides memperingatkan: Yang kuat dapat berbuat semau mereka, sementara yang lemah harus menderita, kita harus menolak doktrin ini,” kata Presiden dalam pidatonya.
“PBB ada untuk menolak doktrin ini. Kita harus membela semua, yang kuat dan yang lemah. Benar disebut benar, bukan karena dapat disebut demikian, tetapi memang demikian adanya.”
Nah, menurut Shofwan, dewan yang digagas Trump itu justru berangkat dari semangat yang bertolak belakang. Ia menilai inisiatif itu tidak lahir dari niat perdamaian sejati, melainkan lebih untuk mengakomodasi kepentingan nasional AS sendiri.
“Trump dan AS memang menciptakan kondisi yang demikian,” pungkasnya. “Bukan demi perdamaian, tapi demi kepentingan AS sendiri.”
Artikel Terkait
Dokter Tifa Sebut Kasus Ijazah sebagai Penipuan Terbesar dalam Sejarah
Hujan Deras di Lereng Slamet Picu Longsor dan Banjir Bandang, Satu Warga Tewas
Tom Morello dan Gelombang Amuk Publik: Amerika di Ambang Ledakan Sosial
Keluarga dan Rekan KKP Lepas Yoga Naufal, Korban Kecelakaan Pesawat, di Tengah Isak Tangis