Soal sikap Indonesia, ia mengingatkan agar pemerintah lebih berhati-hati. Bahkan, Pizaro menyarankan untuk mengikuti sikap tegas yang sudah diambil Majelis Ulama Indonesia (MUI).
"Alhamdulillah MUI sudah bersikap. Mereka menyebut ini 'perdamaian semu' yang berpotensi melanggengkan kolonialisme. Pemerintah harusnya mengikuti sikap itu," tegasnya lagi.
Di sisi lain, rencana pendanaan dewan ini juga ia sorot. Angka yang disebut mencapai satu miliar dolar AS, diminta dari negara-negara anggota. Bagi Pizaro, ini tidak masuk akal.
"Negara yang tidak terlibat konflik diminta bayar, sementara pihak yang menyerang tidak dimintai pertanggungjawaban?" katanya, menyiratkan ketidaksetujuan. "Indonesia harus bertanya: untuk apa dana sebesar itu?"
Tanpa kejelasan mandat dan mekanisme kerja, Pizaro khawatir keterlibatan Indonesia justru bisa merugikan. Posisi politik luar negeri kita berpotongan dengan kepentingan yang tidak jelas arahnya.
Acara peluncuran buku itu sendiri berlangsung dengan diskusi cukup hangat. Pizaro didampingi oleh jurnalis Surya Fachrizal Ginting, sementara dialog dipandu oleh aktivis Bogor, Sarah Motiva.
Artikel Terkait
Menhan: Status Siaga Satu TNI untuk Jamin Rasa Aman, Bukan untuk Dikhawatirkan
BPJS Kesehatan Makassar Tetap Buka Layanan Administrasi Selama Libur Lebaran
Nastar hingga Kue Kacang: Kisah di Balik Kue Kering Wajib Lebaran
Once Mekel Dorong Keseimbangan Hak Cipta dan Akses Publik dalam Revisi UU