Sentuhan Mata Hati: Kisah Para Terapis Tunanetra di Wyata Guna

- Jumat, 23 Januari 2026 | 22:36 WIB
Sentuhan Mata Hati: Kisah Para Terapis Tunanetra di Wyata Guna

Begitu melangkah masuk ke area Sentra Wyata Guna di Jalan Pajajaran, Bandung, Anda akan disapa aroma khas yang menenangkan: minyak kayu putih dan kain bersih. Tempat ini sudah lebih dari sepuluh tahun menjadi rumah rehabilitasi bagi penyandang disabilitas netra. Di dalamnya, ada sebuah ruangan yang menawarkan pengalaman unik. Di sana, sentuhan terapi justru datang dari para terapis yang juga tunanetra.

Inilah Rumah Bugar Wyata Guna, sebuah inisiatif dari Kementerian Sosial. Layanannya? Pijat tradisional dan terapi Shiatsu. Yang istimewa, semua terapisnya adalah penyandang tunanetra. Bagi banyak pengunjung, datang ke sini bukan cuma soal mengatasi pegal-pegal. Ini adalah perjumpaan langsung dengan inklusivitas yang hidup dan benar-benar nyata.

Tarifnya terbilang sangat terjangkau, sekitar tujuh puluh lima ribu rupiah per jam. Dengan biaya segitu, pengunjung bisa memilih dari tiga layanan: pijat tradisional, Shiatsu, atau spa. Para terapisnya bekerja secara bergiliran, menyesuaikan dengan keahlian spesifik masing-masing.

Vivin Harwati Suffiar, Kepala Kelompok Kerja Residensial di sentra tersebut, menjelaskan alasan di balik penataan ruangannya.

“Massage tradisional itu menggunakan minyak, sementara Shiatsu tidak,” ujarnya pada suatu Jumat di akhir Januari.

Itulah mengapa ruang layanan dipisah dengan rapi. Semua tertata bersih. Di bagian pijat dan Shiatsu, terlihat lebih dari delapan tempat tidur beralas matras kesehatan. Pemisahan ini intinya untuk menjaga standar kebersihan yang ketat.

Prosedurnya standar. Sebelum terapi, pengunjung diminta berganti pakaian khusus. Para terapis sendiri sangat menjaga protokol. Mereka memakai masker, menjaga kebersihan badan, kuku dipotong pendek, dan menggunakan perlengkapan sekali pakai.

Khusus untuk Shiatsu, tekanannya diberikan pada lebih dari 20 titik tubuh, dari kepala sampai ujung kaki. Uniknya, terapi ini dilakukan melalui handuk, tanpa kontak kulit langsung. Teknik seperti ini jelas butuh ketepatan, tenaga, dan kepekaan sentuhan yang luar biasa.

Nah, di sinilah keajaibannya terjadi. Keterbatasan penglihatan sama sekali bukan halangan bagi para terapis. Berbekal hafalan anatomi tubuh dan kepekaan indra peraba yang terlatih, mereka mampu ‘membaca’ ketegangan otot hanya melalui telapak tangan mereka.

Pengunjung bisa memilih durasi satu atau dua jam, juga memilih terapis sesuai preferensi gender. Layanan ini bahkan dipercaya oleh para atlet untuk pemulihan stamina dan meredakan nyeri setelah bertanding. Sebuah pengakuan profesional yang nyata.

Kompetensi mereka memang diakui secara formal. Setelah menyelesaikan pelatihan dan magang di Rumah Bugar, para terapis ini mengikuti sertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Dampaknya sungguh nyata bagi kehidupan mereka. Sentra Wyata Guna berhasil membuka pintu kemandirian. Setelah menjalani pelatihan intensif selama enam bulan dan dilanjutkan magang, banyak alumni yang kemudian berwirausaha.

Vivin dengan bangga berbagi kisah sukses mereka.

“Berbekal pengalaman, kesabaran dan kesungguhan hati, banyak para terapis alumni dari sini membuka jasa terapi pijat tradisional sendiri. Penghasilannya bisa mencapai di atas Rp3 juta per bulan,” ungkapnya.

Pada akhirnya, Rumah Bugar Wyata Guna ini lebih dari sekadar tempat pijat. Ini adalah ruang pembelajaran yang sunyi tentang kemandirian. Setiap sentuhan dari tangan para terapis itu membawa pesan yang lebih kuat dari sekadar kata-kata: tentang kepercayaan, tentang kesempatan yang setara, dan tentang inklusivitas yang bukan sekadar wacana. Semuanya terasa, perlahan, dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar