Nah, di sinilah keajaibannya terjadi. Keterbatasan penglihatan sama sekali bukan halangan bagi para terapis. Berbekal hafalan anatomi tubuh dan kepekaan indra peraba yang terlatih, mereka mampu ‘membaca’ ketegangan otot hanya melalui telapak tangan mereka.
Pengunjung bisa memilih durasi satu atau dua jam, juga memilih terapis sesuai preferensi gender. Layanan ini bahkan dipercaya oleh para atlet untuk pemulihan stamina dan meredakan nyeri setelah bertanding. Sebuah pengakuan profesional yang nyata.
Kompetensi mereka memang diakui secara formal. Setelah menyelesaikan pelatihan dan magang di Rumah Bugar, para terapis ini mengikuti sertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Dampaknya sungguh nyata bagi kehidupan mereka. Sentra Wyata Guna berhasil membuka pintu kemandirian. Setelah menjalani pelatihan intensif selama enam bulan dan dilanjutkan magang, banyak alumni yang kemudian berwirausaha.
Vivin dengan bangga berbagi kisah sukses mereka.
Pada akhirnya, Rumah Bugar Wyata Guna ini lebih dari sekadar tempat pijat. Ini adalah ruang pembelajaran yang sunyi tentang kemandirian. Setiap sentuhan dari tangan para terapis itu membawa pesan yang lebih kuat dari sekadar kata-kata: tentang kepercayaan, tentang kesempatan yang setara, dan tentang inklusivitas yang bukan sekadar wacana. Semuanya terasa, perlahan, dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Artikel Terkait
Hujan Deras Picu Status Siaga di Sejumlah Pintu Air Jabodetabek
Gedung Pemerintah Aceh Tamiang Bangkit, Berkat Tenaga Praja IPDN
Bima Arya Gelar Rapat Kunci, Siapkan Panggung APCAT Summit 2026 di Jakarta
Hakim Bebaskan Admin Mahasiswa karena Dakwaan Aplikasi Canva atau Lainnya Dinilai Tak Jelas