Lubang Utang Rp 800 Triliun: Pemerintah Terjebak Siklus Gali Tutup

- Kamis, 22 Januari 2026 | 16:40 WIB
Lubang Utang Rp 800 Triliun: Pemerintah Terjebak Siklus Gali Tutup

Utang Indonesia Tembus Rp 800 Triliun di 2025, dan Masih Akan Naik

Angkanya mencengangkan. Sepanjang tahun 2025 ini, pemerintah Indonesia tercatat menambah utang lebih dari Rp 800 triliun. Kalau dilihat dari kecepatannya, bukan hal mustahil utang negara bakal menyentuh Rp 10.000 triliun di tahun 2026. Bisa jadi di awal tahun, atau mungkin di pertengahan. Yang jelas, trennya mengarah ke sana.

Lalu, apa konsekuensinya? Pemerintah akan menghadapi beban yang sangat berat di tahun depan. Mereka harus menyiapkan dana sekitar Rp 600 triliun hanya untuk membayar bunga utang. Belum lagi pokok utang yang jatuh tempo, yang nilainya sekitar Rp 800 triliun.

Jadi, coba bayangkan. Bahkan sebelum membiayai program apa pun, negara sudah harus mencari uang segila Rp 1.400 triliun. Pertanyaannya, dari mana uang sebanyak itu datang?

Jawabannya cenderung monoton: berutang lagi. Skemanya seperti lingkaran setan. Utang baru dipakai untuk menutup utang lama sekaligus membayar bunganya. Kita seolah-olah terus menggali lubang baru untuk menutup lubang yang lama.

Parahnya, siklus ini sudah seperti candu. Andai utang dihentikan sekarang, bisa-bisa perekonomian langsung kolaps. Situasinya memang serius.

Oh ya, data resmi untuk 2025 memang masih estimasi. Tapi berdasarkan data pemerintah tahun 2024 dan pola yang ada, perkiraan ini hampir pasti akurat. Yang menarik, cara pelaporan utang juga berubah. Dulu dirilis bulanan, sekarang cuma per kuartal. Besok-besok bisa jadi malah cuma setahun sekali.

Padahal, mestinya ada transparansi penuh. Bayangkan jika ada situs web khusus yang menampilkan utang negara secara real time, lengkap dengan rincian cicilan pokok dan bunganya. Kan negara ini milik bersama? Jangan sampai yang menikmati hasil utang segelintir orang, sementara bebannya ditanggung oleh rakyat kecil dan generasi mendatang lewat pajak yang makin mencekik.

Saya sengaja tidak mencantumkan rasio utang terhadap PDB di sini. Kalau dibandingkan dengan angka di tahun 2014 misalnya, pasti banyak yang kaget. Intinya, utang Indonesia membesar baik secara nominal maupun proporsinya.

Ini sekadar informasi. Untuk bahan renungan kita semua.

(Tere Liye)

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar