Waspada dengan Gelembung Epistemologi
Istilah "gelembung epistemologi" mungkin masih asing di telinga banyak orang. Intinya, ini menggambarkan kondisi di mana pandangan kita terhadap dunia menjadi sempit. Penyebabnya sederhana: kita hanya dikelilingi informasi dan sudut pandang yang itu-itu saja. Akibatnya, perspektif lain yang berbeda menjadi sulit dipahami, bahkan dianggap salah.
Faktor pemicunya beragam. Media sosial, misalnya, dengan algoritmanya yang menyaring konten, secara halus membatasi apa yang kita lihat. Lingkungan pertemanan yang homogen, pendidikan yang tak membuka wawasan, atau bahkan ajaran budaya dan agama yang dimanipulasi semua itu bisa menjadi dinding tebal yang mengurung pemikiran kita.
Lalu, seperti apa wujud gelembung ini dalam kenyataan hari-hari kita? Perlu dicermati, salah satunya, adalah kecenderungan konflik global saat ini.
Ambil contoh eskalasi perang ekonomi yang berubah wujud menjadi ancaman militer. Di berbagai belahan dunia, analisis untuk mengambil keputusan strategis kini lebih sering diwarnai logika militer. Infrastruktur sipil dibangun, tapi di balik itu terselip tujuan untuk mobilitas pasukan. Teknologi pun, alih-alih untuk kesejahteraan manusia, justru dikembangkan demi mempertahankan atau merebut hegemoni kekuasaan.
Artikel Terkait
Makan Bergizi Gratis dan Luka Nurani yang Terabaikan
Silaturahmi Berujung Nestapa, Satu Keluarga Tewas Diterjang Kereta di Perlintasan Tanpa Palang
Jakarta Siaga Awas, Hujan Ekstrem Lumpuhkan Ibu Kota
Hujan Lebat Runtuhkan Rumah Lapuk di Matraman, Satu Penghuni Terluka