Tak berhenti di situ. Eksploitasi sumber daya alam kerap dipacu untuk memenuhi kebutuhan alat utama sistem pertahanan yang canggih. Yang lebih memprihatinkan, agama pun tak luput dari manipulasi. Ia dijadikan alat untuk memobilisasi emosi massa, sebuah rekayasa sosial yang berbahaya.
Dampaknya jelas. Gelembung epistemologi ini menggerus multikulturalisme, membahayakan keragaman, dan pada akhirnya memicu konflik sosial. Suasana yang sempit dan penuh prasangka.
Maka, di tengah arus informasi yang deras, menjaga kebhinekaan adalah sebuah keharusan. Kita harus tetap waspada terhadap menguatnya "gelombang" pemikiran yang seragam ini. Karena jika dibiarkan, ia bisa merusak keindahan tatanan hidup umat manusia yang berwarna-warni.
Penulis: Hasanuddin
Artikel Terkait
Desa Adat Pallawa: Menyaksikan Transformasi dari Tradisi Kelam ke Warisan Budaya Toraja
PD Parkir Makassar Tegaskan Tarif Resmi Tak Naik Meski Ada Video Viral Jukir Minta Rp10 Ribu
Gunung Tambora Naik Status Jadi Waspada, Aktivitas Gempa Vulkanik Meningkat
Harga Emas Batangan Pegadaian Naik Signifikan, Tembus Rp3 Jutaan per Gram