Menjelang Idulfitri, permintaan terhadap pakaian dan sepatu baru biasanya melonjak. Nah, kabar baiknya, industri tekstil dan alas kaki dalam negeri mengaku siap siaga menghadapi tren tahunan ini. Kementerian Perindustrian memastikan kapasitas produksi nasional dalam kondisi optimal untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik selama Ramadan hingga hari raya nanti.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan hal itu. "Setiap tahun, momentum Ramadan dan Idulfitri selalu diikuti dengan peningkatan konsumsi masyarakat," ujarnya di Jakarta, Selasa (10/3/2026).
Berdasarkan koordinasi dengan pelaku usaha, kapasitas produksi saat ini dinilai cukup. Jadi, stok untuk busana muslim, kain sarung, atau sepatu baru seharusnya aman.
Di sisi lain, peran sektor ini memang jauh lebih besar dari sekadar memenuhi kebutuhan lebaran. Industri tekstil dan alas kaki adalah tulang punggung manufaktur yang padat karya. Kontribusinya terhadap perekonomian nasional tidak main-main. Sepanjang 2025 lalu, industri TPT tercatat tumbuh 3,55 persen. Angkanya mungkin tak fantastis, tapi kontribusinya terhadap PDB hampir mencapai 1 persen.
Yang lebih nyata adalah serapan tenaga kerjanya. Rizky Aditya Wijaya, Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kemenperin, menyoroti fungsi sosial sektor ini. "Sektor TPT terus menjalankan fungsi sosial dan ekonominya sebagai industri padat karya," katanya.
Data pada Agustus 2025 menunjukkan, sektor ini menyerap hampir 4 juta pekerja. Jumlah itu meningkat dibanding posisi Februari di tahun yang sama. Artinya, lapangan kerja yang tercipta masih signifikan.
Namun begitu, persiapan menghadapi lonjakan permintaan tidak boleh asal-asalan. Pemerintah mengaku telah menjalankan sejumlah langkah strategis. Mulai dari memonitor kapasitas produksi di pabrik-pabrik, mengawasi pasokan bahan baku, hingga memperlancar distribusi. Mereka juga berkoordinasi ketat dengan produsen serat, benang, dan bahan baku alas kaki. Tujuannya jelas: menjaga stabilitas pasokan dan harga.
Ada satu tantangan lain yang terus diawasi, yaitu maraknya impor pakaian bekas ilegal. Praktik thrifting yang tidak sesuai aturan ini dinilai bisa menggerus pasar produk lokal, terutama yang dari usaha kecil dan menengah.
“Kami terus memperkuat pengawasan terhadap peredaran pakaian bekas impor ilegal,” tegas Rizky. Langkah ini dianggap penting untuk melindungi industri dalam negeri dan memberi ruang bagi produk lokal.
Laporan dari Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO) memberi sinyal positif. Sejak awal 2026, produksi di beberapa segmen seperti busana muslim, pakaian anak, dan sepatu kasual mengalami peningkatan. Lonjakan pesanan ini bahkan ikut mendongkrak penyerapan tenaga kerja tambahan secara musiman.
Ke depannya, Kemenperin berkomitmen meningkatkan daya saing lewat transformasi teknologi dan penerapan industri 4.0. Mereka juga mendorong pelaku usaha memanfaatkan platform digital untuk memperluas pasar.
Rizky optimistis momentum Ramadan dan Idulfitri tahun ini bisa dimanfaatkan dengan baik. Bukan cuma untuk memenuhi permintaan, tapi juga mendorong kinerja industri dan kontribusinya pada ekonomi nasional.
Di akhir pernyataannya, ada ajakan yang familier tapi selalu relevan. "Kemenperin juga mengajak masyarakat untuk terus mendukung penggunaan produk dalam negeri," pungkasnya. Sebuah kontribusi sederhana yang dampaknya bisa luas bagi kemandirian ekonomi.
Artikel Terkait
Pemerintah Targetkan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2026 Tembus 5,7 Persen
Kuartal I-2026: 633 Perusahaan Baru Bangun Pabrik, Serap 219.684 Tenaga Kerja dan Investasi Rp418 Triliun
Menlu Iran Tiba di Pakistan, Pertemuan Langsung dengan Delegasi AS Dipastikan Batal
Pedagang Rujak di Cirebon Berangkat Haji Setelah 27 Tahun Menyisihkan Recehan