Waspada dengan Gelembung Epistemologi
Istilah "gelembung epistemologi" mungkin masih asing di telinga banyak orang. Intinya, ini menggambarkan kondisi di mana pandangan kita terhadap dunia menjadi sempit. Penyebabnya sederhana: kita hanya dikelilingi informasi dan sudut pandang yang itu-itu saja. Akibatnya, perspektif lain yang berbeda menjadi sulit dipahami, bahkan dianggap salah.
Faktor pemicunya beragam. Media sosial, misalnya, dengan algoritmanya yang menyaring konten, secara halus membatasi apa yang kita lihat. Lingkungan pertemanan yang homogen, pendidikan yang tak membuka wawasan, atau bahkan ajaran budaya dan agama yang dimanipulasi semua itu bisa menjadi dinding tebal yang mengurung pemikiran kita.
Lalu, seperti apa wujud gelembung ini dalam kenyataan hari-hari kita? Perlu dicermati, salah satunya, adalah kecenderungan konflik global saat ini.
Ambil contoh eskalasi perang ekonomi yang berubah wujud menjadi ancaman militer. Di berbagai belahan dunia, analisis untuk mengambil keputusan strategis kini lebih sering diwarnai logika militer. Infrastruktur sipil dibangun, tapi di balik itu terselip tujuan untuk mobilitas pasukan. Teknologi pun, alih-alih untuk kesejahteraan manusia, justru dikembangkan demi mempertahankan atau merebut hegemoni kekuasaan.
Artikel Terkait
Harga Emas Batangan Pegadaian Naik Signifikan, Tembus Rp3 Jutaan per Gram
Mantan Pj Gubernur Sulsel Ditahan, Dugaan Korupsi Bibit Nanas Rugikan Negara Rp50 Miliar
Truk Nyangkut di Perlintasan Kaligawe, 10 Perjalanan KA di Semarang Terganggu
BBPJN Targetkan Tutup Lubang Jalan Nasional Sulsel Sebelum 10 Maret Jelang Mudik