TBS Energi Utama Catat Rugi Akuntansi USD 162 Juta dalam Transformasi ke Energi Hijau

- Selasa, 10 Maret 2026 | 14:35 WIB
TBS Energi Utama Catat Rugi Akuntansi USD 162 Juta dalam Transformasi ke Energi Hijau

Laporan keuangan PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) untuk tahun 2025 mencatat angka yang cukup mencolok: rugi bersih mencapai 162 juta dolar AS. Tapi, jangan buru-buru mengambil kesimpulan. Kerugian besar ini, menurut penjelasan perusahaan, bukanlah cerminan dari bisnis yang sedang limbung. Ini lebih merupakan efek pencatatan akuntansi tepatnya, yang bersifat non-kas dan dianggap tak berulang seiring langkah strategis mereka banting setir ke bisnis energi hijau.

Nah, sumber kerugian itu utamanya berasal dari penjualan dua aset PLTU, yaitu PT Minahasa Cahaya Lestari dan PT Gorontalo Listrik Perdana. Di sini, aturan akuntansi proyek IPP dengan skema BOOT memainkan peran. Singkatnya, saat aset dibangun, nilai bukunya sudah mencakup estimasi pendapatan masa depan. Ketika aset itu dilepas sebelum masa konsesinya habis, bagian pendapatan yang belum direalisasikan itu harus dihapus dari pembukuan. Jadilah, muncullah angka merah di laporan laba rugi.

Namun begitu, kalau kita tilik lebih dalam, kondisi keuangan TOBA sebenarnya tak sekelam angka rugi itu. Arus kas mereka justru terlihat solid. Adjusted EBITDA mereka bertengger di angka USD 47,2 juta. Yang lebih menggembirakan, posisi kas malah naik 15% menjadi USD 102,3 juta. Ini menunjukkan perusahaan masih punya napas yang panjang untuk menjalani proses transformasi yang tak mudah ini.

Analis Philip Sekuritas, Edo Ardiansyah, sepakat dengan pandangan itu. Menurutnya, kerugian 2025 sama sekali bukan indikasi pelemahan operasional.

“Rugi yang muncul lebih merupakan dampak akuntansi dari divestasi aset pembangkit. Dari sisi arus kas justru terlihat lebih kuat karena perusahaan memperoleh fleksibilitas keuangan untuk mendanai ekspansi bisnis berkelanjutan,” katanya.

Ia menilai langkah TBS melepas aset batu bara sekaligus mendorong bisnis hijau adalah bagian dari restrukturisasi jangka panjang. Dengan begitu, ketergantungan pada fluktuasi harga komoditas itu lambat laun bisa dikikis.

Dan transformasi itu sudah mulai kelihatan nyata. Lihat saja kontribusi pendapatannya. Segmen pengelolaan limbah kini jadi penyumbang utama, meraup USD 155,4 juta atau sekitar 41% dari total pendapatan. Bisnis ini jadi tulang punggung baru yang cukup tangguh.

“Sementara itu kendaraan listrik dan energi terbarukan memiliki potensi pertumbuhan yang besar dalam beberapa tahun ke depan,” tambah Edo.

Di sisi lain, perusahaan tak berhenti di situ. Melalui CORA Environment, mereka memperkuat bisnis limbah di tingkat regional. Lalu, lewat Electrum, ekosistem kendaraan listrik mereka terus berkembang hingga akhir 2025 sudah ada lebih dari 7.500 unit motor listrik yang beroperasi, didukung oleh sekitar 364 stasiun penukaran baterai.

Di sektor energi terbarukan, proyek mini hidro 6 MW di Lampung sudah berjalan sejak awal tahun. Sementara proyek yang lebih besar, PLTS terapung di Batam berkapasitas 46 MWp, masih dalam pengerjaan dan ditargetkan menyala akhir 2026.

Jadi, apa arti semua ini? Menurut analis, pencatatan rugi non-kas di tengah proses perubahan besar adalah hal yang wajar. Bahkan, kerap terjadi.

“Dalam jangka pendek memang terlihat sebagai tekanan pada laporan laba rugi, tetapi dari sisi arus kas dan potensi pertumbuhan jangka panjang justru memberikan fondasi yang lebih kuat,” pungkas Edo.

Transformasi memang selalu punya harga. Bagi TBS, harga itu tercetak sebagai angka rugi di kertas laporan tahun ini. Tapi di balik itu, mereka sedang membangun fondasi untuk masa depan yang sama sekali berbeda.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar