BMKG Prediksi Puncak Kemarau Terjadi Agustus 2026, Wilayah Mulai Kering Bertahap

- Rabu, 08 April 2026 | 11:05 WIB
BMKG Prediksi Puncak Kemarau Terjadi Agustus 2026, Wilayah Mulai Kering Bertahap

Musim kemarau tahun depan diprediksi bakal lebih panjang dari biasanya. Itu sih inti peringatan dari BMKG. Menariknya, puncak kekeringan itu sendiri diperkirakan baru terjadi pada Agustus 2026 nanti.

Namun begitu, awal musimnya sendiri nggak serentak. Dari 699 Zona Musim (ZOM) yang dipantau, sebagian kecil malah sudah mulai merasakan kemarau sejak awal tahun. Tepatnya, 4 zona di Februari dan 7 zona lagi di Maret.

Gelombang besar baru benar-benar dimulai April. Saat itulah sekitar 114 ZOM atau 16,3% wilayah akan mulai kering. Wilayahnya mencakup pesisir utara Jawa bagian barat, terus merambat ke pesisir utara dan selatan Jawa Tengah. Sebagian besar Yogyakarta, beberapa daerah di Jawa Timur, Bali, lalu seluruh Nusa Tenggara Barat dan Timur, serta sedikit wilayah Sulawesi Selatan juga ikut masuk fase ini.

Nah, bulan Mei nanti jangkauannya makin meluas. Sekitar 184 zona atau lebih dari seperempat total ZOM akan terdampak. Wilayahnya mulai dari Aceh bagian utara, merambah ke sebagian Sumatera Utara, Riau, sampai ke Jambi dan Sumatera Selatan. Lampung dan sebagian besar Pulau Jawa juga termasuk. Selain itu, daerah seperti Bali bagian tengah, sedikit Nusa Tenggara Barat, hingga beberapa titik di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua juga akan merasakan awal kemarau.

Perluasan terbesar justru terjadi di bulan Juni. Saat itu, 163 ZOM lainnya diprediksi mulai mengalami kemarau. Cakupannya luas banget: sebagian besar Aceh, Sumatera Barat, Riau, hingga Bangka Belitung. Sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi juga baru akan merasakannya di bulan ini, bersama dengan beberapa wilayah di Maluku dan Papua.

Memasuki Juli, gelombangnya mulai mereda. Hanya 63 ZOM yang baru memulai, terutama di bagian timur Indonesia. Wilayahnya meliputi sebagian Kalimantan Selatan dan Timur, lalu sebagian besar Sulawesi, serta beberapa daerah di Maluku dan Papua Barat.

Terakhir, Agustus. Di bulan yang disebut sebagai puncak kemarau ini, justru hanya 26 ZOM yang baru memulainya. Daerah-daerah tersebut tersebar di sebagian kecil Kalimantan Timur, beberapa bagian Sulawesi, Maluku, dan Papua Pegunungan.

Antisipasi Risiko Musim Kemarau

Menanggapi prediksi ini, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengingatkan semua pihak untuk bersiap. Dari pemerintah pusat, daerah, sampai masyarakat biasa.

"Langkah ini harus dibarengi dengan penguatan sektor sumber daya air melalui revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi demi menjamin ketersediaan air bersih bagi kebutuhan domestik maupun operasional PLTA di sektor energi," ujarnya.

Di sektor pangan, para petani disarankan menyesuaikan jadwal tanam. Pilih varietas yang lebih tahan banting terhadap kekeringan dan punya umur panen lebih pendek.

Di sisi lain, kewaspadaan terhadap dampak lingkungan juga harus ditingkatkan. Penurunan kualitas udara dan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) jadi prioritas yang mesti diantisipasi dengan mekanisme respons cepat.

"BMKG menegaskan bahwa seluruh informasi prediksi ini merupakan bentuk peringatan dini (Early Warning) yang harus segera diterjemahkan menjadi aksi nyata (Early Action) oleh para pemangku kepentingan demi meminimalkan risiko bencana kekeringan di Indonesia," pungkas Fathani menutup pernyataannya.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar