Netanyahu Batal ke Davos, Dicekal Surat Penangkapan ICC

- Kamis, 22 Januari 2026 | 10:30 WIB
Netanyahu Batal ke Davos, Dicekal Surat Penangkapan ICC

Benjamin Netanyahu memutuskan untuk tak hadir. Perdana Menteri Israel itu membatalkan kehadirannya dalam peresmian Board of Peace atau Dewan Perdamaian yang digagas Donald Trump. Acara yang rencananya digelar di sela-sela World Economic Forum di Davos, Swiss, pada Kamis (22/1) itu pun harus berlangsung tanpa sosok sahabat dekat Trump tersebut.

Alasannya jelas. Swiss secara resmi menyatakan akan menghormati surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) untuk Netanyahu. Kabar ini pertama kali dilaporkan oleh media Israel, Haaretz.

"Sebagai pihak dalam Statuta Roma, Swiss wajib bekerja sama dengan ICC,"

demikian penjelasan singkat dari Kantor Keadilan Federal Swiss, seperti dikutip media.

Lalu, Apa Itu Dewan Perdamaian Trump?

Ini adalah proyek besar Trump. Dewan Perdamaian dirancang sebagai bagian dari fase kedua gencatan senjata di Gaza, dengan tugas mengawasi rekonstruksi, penarikan investasi, dan pendanaan skala besar di wilayah yang hancur itu. Trump sendiri yang akan memegang kendali penuh atas kepemimpinan dan komposisi dewan.

Caranya? Negara yang ingin jadi anggota permanen harus menyetor dana tak main-main: satu miliar dolar AS. Hampir Rp 17 triliun.

Undangan telah disebar ke sekitar 60 negara. Tanggapannya beragam. Indonesia, bersama tujuh negara Islam lain seperti UEA, Arab Saudi, dan Qatar, menyatakan bergabung. Di sisi lain, negara-negara seperti Vietnam, Belarusia, hingga Argentina juga ikut serta. Tak ketinggalan Israel sendiri, meski pemimpinnya absen di Davos.

Tokoh-tokoh kunci di belakangnya punya nama besar. Mulai dari Menlu AS Marco Rubio hingga mantan PM Inggris Tony Blair. Banyak pengamat yang lalu berkomentar, dewan bentukan Trump ini nantinya bisa saja bersaing langsung dengan Dewan Keamanan PBB.

Bayang-bayang Surat Perintah ICC

Semuanya berawal dari keputusan ICC pada November 2024. Lembaga itu mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Netanyahu atas tuduhan kejahatan perang dan kemanusiaan di Gaza. Tuduhannya berat: menggunakan kelaparan sebagai senjata perang, mengarahkan serangan ke warga sipil, plus pembunuhan dan penganiayaan. Periode yang disorot adalah dari 8 Oktober 2023 hingga 20 Mei 2024.

Meski AS menolak kewenangan ICC, surat itu punya dampak nyata. Netanyahu sekarang harus sangat berhati-hati. Dia menghindari bepergian melalui negara-negara Eropa yang meratifikasi Statuta Roma, memilih rute alternatif yang lebih aman. Situasi yang jelas merepotkan bagi perdana menteri Israel terlama itu.

Di forum WEF nanti, Israel akan diwakili oleh Presiden Isaac Herzog. Herzog sendiri sudah terang-terangan mengecam surat perintah penangkapan ICC terhadap Netanyahu.

Duka yang Terus Berlanjut di Gaza

Sementara perbincangan tentang dewan perdamaian dan surat perintah penangkapan berlangsung, situasi di tanah Gaza tetap suram. Angka korban jiwa sejak agresi 7 Oktober 2023 terus meroket. Sudah lebih dari 71.500 orang tewas. Yang luka-luka mencapai 171.370.

Dan itu belum final. Ribuan korban lainnya diperkirakan masih tertimbun di bawah reruntuhan. Infrastruktur hancur, akses tim penyelamat sangat terbatas. Setiap hari, jumlahnya bisa saja bertambah. Sebuah tragedi kemanusiaan yang sepertinya belum akan berakhir dalam waktu dekat.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar