Dia lalu jabarin poin-poin plusnya. Pasar sudah jelas, jadi nggak perlu repot-repot menciptakan permintaan dari nol. Distribusi? Udah terjamin. Lalu, bisnis model kayak gini juga hampir nggak ada masa liburnya, terus jalan aja. Masalah di produk? Biasanya nggak sampai diboikot. Bahkan, soal tenaga kerja, biayanya sering ditanggung pemerintah lewat skema P3K.
Tapi ya, nggak semuanya mulus. Dedy Ong juga singgung beberapa kekurangan. Pelanggan di sini dalam hal ini pemerintah sulit cari alternatif lain. Dan uniknya, kalau ada yang komplain, justru yang komplain itu yang biasanya jadi repot sendiri. Iya, bener.
Jadi gitu pandangannya. Dari sisi pengusaha, model B2G memang menawarkan stabilitas yang jarang ditemuin di bisnis konvensional. Tapi ya, tetap ada dinamikanya sendiri.
Artikel Terkait
Kelme Luncurkan Jersey Timnas Indonesia dengan Teknologi Jacquard dan Emblem Silikon 3D
IHSG Melemah 0,37%, Analis Soroti Potensi Koreksi dan Peluang Penguatan
BSI Gelar Festival Ramadan di Makassar, Tawarkan Diskon Umrah hingga DP 0% Kendaraan
IJTI Peringatkan Perjanjian Dagang RI-AS Ancam Media Nasional