Dia lalu jabarin poin-poin plusnya. Pasar sudah jelas, jadi nggak perlu repot-repot menciptakan permintaan dari nol. Distribusi? Udah terjamin. Lalu, bisnis model kayak gini juga hampir nggak ada masa liburnya, terus jalan aja. Masalah di produk? Biasanya nggak sampai diboikot. Bahkan, soal tenaga kerja, biayanya sering ditanggung pemerintah lewat skema P3K.
Tapi ya, nggak semuanya mulus. Dedy Ong juga singgung beberapa kekurangan. Pelanggan di sini dalam hal ini pemerintah sulit cari alternatif lain. Dan uniknya, kalau ada yang komplain, justru yang komplain itu yang biasanya jadi repot sendiri. Iya, bener.
Jadi gitu pandangannya. Dari sisi pengusaha, model B2G memang menawarkan stabilitas yang jarang ditemuin di bisnis konvensional. Tapi ya, tetap ada dinamikanya sendiri.
Artikel Terkait
Prabowonomics di Davos: Gagasan atau Gincu Ekonomi?
Prabowo Siap Paparkan Prabowonomics di Panggung Elite Davos 2026
Gelembung Epistemologi: Ketika Dunia Kita Menyempit dan Konflik Mengintai
Tito Karnavian Serahkan Bantuan Langsung dan Tinjau Pemulihan Pidie Jaya