Murur dan Tanazul: Pemerintah Siapkan Skema Baru Atur Arus Jemaah Haji 2026

- Kamis, 22 Januari 2026 | 07:18 WIB
Murur dan Tanazul: Pemerintah Siapkan Skema Baru Atur Arus Jemaah Haji 2026

Rencana pemerintah untuk mengatur arus jemaah haji tahun 2026 mulai mendapatkan bentuknya. Konsep yang disebut 'murur' dan 'tanazul' bakal diterapkan di kawasan Arafah, Muzdalifah, dan Mina atau yang biasa disingkat Armuzna. Tujuannya jelas: menata kerumunan agar ibadah berjalan lebih lancar.

Kasatops Armuzna Haji 2025, Laksamana Pertama TNI Harun Arrasyid, mengonfirmasi hal ini di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Rabu lalu.

"Rencana murur dan tanazul itu akan kita laksanakan rencananya tahun ini dan memang sudah diberitakan oleh para pimpinan kita di Kementerian Haji. Bapak Menteri juga akan melaksanakan proyek itu," ujarnya.

Menurut Harun, seluruh petugas di Armuzna mendukung penuh kebijakan ini. Mereka menilai skema baru ini jauh lebih efektif ketimbang cara lama.

Lalu, apa sebenarnya 'murur' itu? Singkatnya, ini adalah pergerakan jemaah dari Arafah menggunakan bus yang hanya "melewati" Muzdalifah. Jemaah tidak turun di sana, melainkan langsung melanjutkan perjalanan ke Mina untuk melakukan lempar jumrah dan mabit. Padahal, dalam aturan fikih, mabit di Muzdalifah itu termasuk wajib haji. Namun begitu, ada kelonggaran untuk jemaah yang uzur, lansia, atau punya alasan syar'i lainnya.

"Dengan adanya murur, bisa mengurai kepadatan jemaah di Muzdalifah," kata Harun. "Sekaligus lebih mengontrol tingkat keramaian di lokasi itu."

Soal berapa banyak jemaah yang akan menjalani skema murur, Harun mengaku belum bisa memastikan. "Sekarang ini baru konsep saja yang akan kita laksanakan," jelasnya. "Termasuk untuk menentukan berapa jumlah jemaah yang akan melakukan itu."

Nah, setelah mabit di Muzdalifah, biasanya jemaah lanjut ke Mina. Tapi demi menghindari kepadatan di tenda-tenda, pemerintah punya skema lain: tanazul. Intinya, jemaah dipulangkan lebih awal ke hotel mereka di Makkah begitu selesai melempar jumrah aqabah. Jadi, tidak perlu menunggu atau menambah beban di Mina.

PPIH TNI-Polri yang Sudah Berhaji Langsung ke Mina

Ada juga perubahan signifikan untuk petugas. Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) dari unsur TNI-Polri yang sudah pernah berhaji, rencananya akan langsung ditempatkan di Mina saat puncak haji. Mereka tidak akan ikut ke Arafah dulu.

"Iya, betul. Rencana tahun ini agar pelayanan di Mina maksimal," kata Harun.

"Oleh karena itu, kita memiliki rencana bahwa petugas, baik dari unsur Linjam (perlindungan jemaah) maupun unsur lainnya yang sudah berhaji, akan langsung diberangkatkan dari pemondokan atau hotel di Makkah menuju Mina."

Harun melanjutkan, "Nanti berbarengan dengan jemaah yang bergerak menuju Arafah. Jadi petugas langsung bergerak ke Mina. Tujuannya agar lebih efektif dalam penyambutan dan pemantauan jemaah yang bergerak dari Arafah menuju Muzdalifah dan dari Muzdalifah menuju Mina."

Diharapkan, dengan skema ini pos-pos tugas PPIH di Mina bisa berfungsi maksimal sejak dini. Harun punya alasan kuat. Menurutnya, kondisi di Jamarat pada malam pertama 10 Zulhijah selalu jadi momen krusial bahkan rawan.

"Semua jemaah menuju ke sana sehingga berpotensi terjadi kepadatan, kelelahan, dan hal-hal lain yang membuat jemaah membutuhkan pertolongan," pungkasnya. "Di situlah kami menilai lebih efektif jika pos-pos petugas sudah diisi oleh petugas yang telah berhaji."

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar