Masalah Eggi jadi serius justru karena latar belakangnya. Dia bukan figur sembarangan. Pernah berdiri di barisan paling depan, melawan kekuasaan dengan keras. Sampai-sampai dipenjara karena sikap politiknya. Karena itulah publik menaruh harapan lebih padanya. Nah, ketika figur dengan sejarah perlawanan panjang tiba-tiba melunak, mengaburkan kritik, dan malah memuji penguasa yang dulu dilawannya, wajar saja publik bertanya-tanya: sebenarnya apa yang sedang dinegosiasikan di belakang layar?
Di sinilah garis ideologis harusnya ditegaskan. Perjuangan nilai itu tidak mengenal kompromi moral. Dialog? Boleh saja. Tapi harus di tempat netral, terbuka, terang-benderang. Bukan main belakang atau selonong boy. Namun begitu, ketika bahasa mulai digunakan untuk memutihkan kezaliman, ketika kritik berubah jadi sanjungan, itu bukan kedewasaan politik. Itu keruntuhan etika.
Sejarah selalu mengajarkan hal yang sama: kekuasaan tidak pernah takut pada oposisi yang marah. Kekuasaan justru sangat diuntungkan oleh oposisi yang jinak. Lebih dari itu, mereka pasti menikmati saat para pengkritiknya saling bingung sendiri, dengan pernyataan yang bertabrakan. Akibatnya, kepercayaan publik runtuh. Perlawanan pun melemah dari dalam.
Kasus ini menegaskan satu hal penting. Ujian terberat bagi seorang pejuang nilai bukan saat dia menghadapi represi, tapi justru saat didekati oleh kekuasaan. Di situlah integritas diuji. Di situlah iman politik diukur. Apakah tetap berdiri tegak, atau mulai menunduk dengan dalih “klarifikasi” atau “niat baik”.
Publik berhak bahkan wajib bertanya: ini masih perlawanan terhadap kezaliman, atau sudah berubah jadi manuver penyelamatan diri? Ini masih sikap moral, atau sekadar penyesuaian posisi belaka?
Sebab dalam politik yang sakit seperti sekarang, satu-satunya modal yang benar-benar berharga ya cuma kejujuran dan konsistensi nilai. Sekali itu dikorbankan, tak ada pelukan kekuasaan apa pun yang bisa mengembalikannya. Beribu klarifikasi hanya akan menggali lubang baru, yang kian dalam dan menganga.
Jakarta, 21 Januari 2026
Artikel Terkait
Hakim Anwar Usman Buka Suara soal Polemik Absensi: Saya Sakit, Bukan Bolos
Tim SAR Temukan Korban Ketiga di Gunung Bulusaraung
Bayi Laki-laki dengan Tali Pusar Ditemukan Tewas Mengambang di Kali Cengkareng
Didu Tantang Prabowo: Rebut Kedaulatan atau Negara Bubar