Rapat yang dipimpin Sjafrie sendiri konon menekankan beberapa poin kunci. Pertama, soal kesiapan operasional semua satuan TNI, termasuk peningkatan latihan gabungan dan modernisasi alutsista. Poin lainnya adalah penguatan koordinasi intelijen nasional untuk mendeteksi ancaman sedini mungkin, bahkan yang sifatnya non-konvensional. Yang tak kalah penting, pendekatan militer ini harus selaras dengan strategi diplomasi, agar tetap berada dalam koridor hukum internasional.
Amir melihat pernyataan Menhan ini juga punya nilai diplomatik. "Ini adalah pesan bahwa Indonesia serius menjaga kedaulatan," katanya. Pesannya jelas: setiap upaya yang mengganggu wilayahnya akan dipantau dengan sangat ketat oleh militer dan intelijen.
Namun begitu, ancaman masa kini tak melulu soal tembak-menembak. Perang modern seringkali bersifat hybrid. Serangan siber, gelombang disinformasi, atau tekanan ekonomi bisa melemahkan negara dari dalam tanpa satu pun peluru ditembakkan. "TNI yang siap menghadapi perang berlarut berarti mereka juga dilatih menghadapi ancaman non-fisik, termasuk operasi informasi dan sabotase strategis," papar Amir.
Strategi pertahanan jangka panjang yang ditekankan Sjafrie dinilai Amir sebagai langkah yang matang. Ketahanan nasional, ujarnya, bukan cuma soal persenjataan yang canggih. Kapasitas logistik, dukungan masyarakat, dan stabilitas politik dalam negeri adalah faktor penentu yang tak boleh diabaikan. Kesiapan menghadapi perang berlarut berarti mengelola semua elemen pertahanan ini secara holistik.
Amir juga menyoroti perlunya koordinasi yang lebih rapat. Antara Kemhan, TNI, dengan instansi lain seperti Kementerian Luar Negeri dan BIN. Sistem pertahanan terpadu seperti inilah yang akan memberi Indonesia keunggulan strategis di tengah ketidakpastian global yang makin menjadi-jadi.
Pada akhirnya, pernyataan Sjafrie ini bisa jadi momentum penting. Ia menandai arah baru strategi pertahanan Indonesia yang lebih antisipatif, adaptif, dan menyeluruh. Seperti ditutup Amir Hamzah, pesannya jelas: Indonesia siap mempertahankan kedaulatan dengan kekuatan militer yang terintegrasi dan cerdas.
Artikel Terkait
Anggota DPR Tagih Janji Prabowonomics: Publik Masih Tunggu Bukti Nyata
Gus Alex Kembali Diperiksa KPK, Kasus Kuota Haji Mencuat
DPR Dorong Setneg Ambil Alih Pembahasan Revisi UU Kewarganegaraan
Said Didu Sindir Damai Hari Lubis Usai Laporkan Ahmad Khoizinudin ke Polda