Presiden Prabowo Soroti Tragedi Kebakaran Terra Drone, 22 Nyawa Melayang

- Kamis, 11 Desember 2025 | 08:10 WIB
Presiden Prabowo Soroti Tragedi Kebakaran Terra Drone, 22 Nyawa Melayang

Asap sudah sirna, tapi duka masih menggantung pekat di sekitar gedung Terra Drone. Peristiwa kebakaran hebat yang menewaskan 22 orang itu kini menyedot perhatian langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Beliau mendorong agar dilakukan evaluasi menyeluruh. Bukan cuma soal standar keselamatan gedung, tapi juga prosedur pencegahan kebakaran di seluruh Indonesia. Ini jadi perhatian serius.

Menurut sejumlah saksi, api mulai berkobar pada Selasa (9/12/2025) siang. Laporan ke petugas damkar baru masuk sekitar pukul 12.43 WIB. Namun begitu, kobaran api sudah terlanjur ganas.

Angka korban jiwa sungguh memilukan: 22 orang. Rinciannya, 15 perempuan salah satunya adalah ibu hamil dan 7 laki-laki. Sebuah kerugian yang tak ternilai.

Merespon tragedi ini, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian langsung turun ke lokasi untuk meninjau. Wajahnya tampak serius. Usai melihat dari dekat, Tito menyampaikan pesan khusus dari pimpinan tertinggi.

"Pak Mensesneg menelepon saya, yang intinya jangan sampai terulang kembali. Saya juga berdiskusi dengan Bapak Mensesneg, yang intinya Bapak Presiden memberikan atensi yang sangat luar biasa terhadap peristiwa ini. Kita semua berduka karena ada 22 orang yang wafat,"

Demikian penuturan Tito di gedung Terra Drone, Rabu (10/12). Ia menekankan, jumlah korban yang besar inilah yang diduga menjadi alasan utama atensi presiden begitu tinggi. Prabowo, kata Tito, tak ingin kejadian serupa terulang di masa depan.

Di sisi lain, insiden ini jelas menjadi pengingat yang keras. Soal betapa rapuhnya nyawa di balik dinding-dinding yang kita anggap aman. Evaluasi yang diinstruksikan presiden diharapkan bisa menjadi langkah awal perbaikan benar-benar sebuah langkah yang tak bisa ditunda lagi.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar