Perlu diingat, jenazah Florencia ditemukan di lokasi yang cukup ekstrem: sebuah jurang sedalam 500 meter dari puncak gunung. Temuan itu terjadi Senin (19/1). Butuh waktu hingga Selasa malam untuk membawanya turun dan ke rumah sakit.
Namun begitu, proses identifikasi berjalan relatif cepat. Tim DVI gabungan langsung bekerja. Kabid Dokkes Polda Sulsel, Kombes Pol dr. Haris, memaparkan hasilnya dalam jumpa pers.
Kepala Pusat Identifikasi Pusdokkes Polri, Brigjen Pol Mashudi, menambahkan detail teknis. Menurutnya, kondisi jenazah masih memungkinkan untuk identifikasi sidik jari yang optimal.
Ia menegaskan, proses ini tak cuma mengandalkan alat. Semua diperkuat dengan pembuktian ilmiah melalui pencocokan data sebelum dan sesudah kematian. Mashudi pun menyakini betul bahwa jenazah dalam kantong yang diserahkan Basarnas itu adalah Florencia.
Artikel Terkait
Yusril Soroti Ironi: Indonesia Sasaran Propaganda, RUU Penanggulangan Malah Ditolak
5,4 Juta Pekerja Ilegal: Pintu Terbuka bagi Perdagangan Manusia di Era Digital
Permainan Licin di Panggung Elite: Meritokrasi Hanya Ilusi?
Lahan Meikarta Dinyatakan Bersih, Siap Dibangun Rusun Bersubsidi