Kedua, Tujuan Pendidikan. Tujuannya ganda: membentuk kepribadian Islami yang tercermin dari pola pikir dan jiwa, serta mempersiapkan anak didik jadi ahli di berbagai bidang kehidupan. Mulai dari ulama fiqih sampai ilmuwan di bidang teknik, kedokteran, dan lain-lain.
Ketiga, Metode Pendidikan Islam. Metodenya disusun agar tidak menyimpang dari asas dan tujuannya. Proses belajar mengajar berpusat pada penyampaian dan penerimaan pemikiran. Di sini, akal dihargai sebagai instrumen utama aset yang membuat manusia mulia dan menjadi sebab dibebankannya hukum.
Keempat, Program Pendidikan Islam. Ini terbagi dua. Ilmu sains (umiyah) untuk pengembangan akal agar manusia bisa menetapkan hukum berdasarkan fakta, seperti kimia atau fisika. Lalu ada ilmu syar'iyah, yang berkaitan langsung dengan hukum halal-haram, wajib-sunnah, dan seterusnya. Ilmu yang kedua inilah yang membentuk pola pikir Islami.
Dari sini terlihat, peran negara sangat krusial dalam merealisasikan sistem pendidikan yang ideal. Islam tidak menjadikan pendidikan sebagai alat cari untung semata. Negara hadir agar hak dasar masyarakat seperti rasa aman, pendidikan, dan kesehatan bisa terpenuhi dengan mudah dan terjangkau.
Lalu, Seperti Apa Wajah Generasi Hebat Itu?
Sejarah mencatat banyak nama. Ambil contoh Fatimah al-Fihri, seorang muslimah di tahun 859 M yang mendirikan kompleks Al-Qarawiyyin. Tempat itu lalu berkembang menjadi universitas tertua di dunia, mengalahkan usia Oxford atau Harvard sekalipun.
Lalu ada Maryam al-Ijliya. Perempuan abad ke-10 dari Aleppo ini adalah ahli astronomi yang mengembangkan astrolabe, alat yang jadi cikal bakal sistem navigasi modern atau GPS kita sekarang.
Jangan lupakan Lubna, si pustakawan andal di era Kekhalifahan Umayyah di Cordoba. Dialah yang bertugas mengumpulkan buku-buku dari berbagai penjuru, hingga koleksinya mencapai lebih dari 500 ribu eksemplar. Kala itu, perpustakaannya adalah yang terbesar di Eropa.
Masih dari Baghdad, ada Sutayta, pakar matematika paruh kedua abad ke-10. Ia sangat mahir dalam aritmatika dan berhasil menemukan persamaan aljabar yang dikutip banyak ilmuwan setelahnya.
Figur-figur hebat ini menunjukkan bahwa dalam sistem yang mendukung, pendidikan bisa melahirkan generasi unggul yang memberi sumbangsih nyata bagi peradaban. Jejak mereka mungkin saja terulang kembali, jika syariat diterapkan secara kaffah untuk mencapai kemaslahatan yang luas.
Allahu‘alam bisshawaab.
Diana Uswatun Hasanah, Pegiat Literasi, tinggal di Malang.
Artikel Terkait
KPK Tangkap Dua Kepala Daerah, Disebut Titipan yang Dulu Mengemis Endorse
Hutang Budi Prabowo dan Parasit di Tubuh Kekuasaan
Sastra di Ujung Tanduk: Generasi Digital dan Kematian Imajinasi
Usia Khadijah Saat Menikah: Benarkah 40 Tahun atau Justru 28?