Belakangan ini, jagat media sosial ramai dengan satu narasi yang cukup menohok. Beberapa konten kreator dengan lantang menyebut bahwa kuliah itu cuma 'scam' belaka alias penipuan. Inti argumennya, kalau jurusan yang diambil nggak sesuai spesialisasi atau passion, ya percuma. Lulusan bisa saja tidak mendapat keuntungan apa-apa. Kesimpulannya, untuk jadi pintar dan sukses, kuliah bukanlah jalan yang wajib.
Pernyataan seperti itu, wajar saja, langsung memantik perdebatan. Banyak yang setuju, tapi tak sedikit pula yang merasa framing-nya terlalu negatif dan gegabah. Lalu, benarkah kuliah bisa disamakan dengan sebuah penipuan?
Mari kita lihat dulu kata "scam" itu sendiri. Sejujurnya, istilah itu terasa kurang pas kalau dipakai untuk mendefinisikan 'kuliah'. Kalau kalimat "kuliah itu scam" kita urai, 'kuliah' jadi subjek, sementara 'scam' adalah penilaian atau predikatnya. Nah, di sini masalahnya. Narasi yang beredar sebenarnya bukanlah makna harfiah, melainkan lebih ke ekspresi kekecewaan. Biasanya, ini muncul karena realita setelah lulus tak seindah ekspektasi yang dibangun selama ini.
Namun begitu, menyematkan label 'scam' secara gegabah tetap saja berisiko. Kesannya jadi seperti vonis final, dan mengabaikan jarak emosional bagi mereka yang mungkin justru menemukan jalan hidupnya di bangku kuliah.
Bagaimana Islam Memandang Ilmu?
Sebenarnya, dalam Islam, menuntut ilmu itu perintah yang sangat jelas. Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita untuk mencari ilmu, baik lewat jalur formal maupun non-formal. Tidak ada yang didiskreditkan. Sebagaimana firman-Nya:
“……Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Mujadalah: 11).
Rasulullah Saw juga pernah bersabda tentang keutamaan orang berilmu:
وقال صلى الله عليه وسلم فَضْلُ العَالِمِ عَلىَ العَابِدِ كَفَضْلِ القَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ عَلىَ سَائِرِ الكَوَاكِبِ
“Keutamaan orang yang berilmu atas ahli ibadah bagaikan rembulan di malam purnama dibanding semua bintang di langit.” (Kitab "Tanqih al-Qaul al-Hatsits" karya Imam Nawawi).
Jadi, dalam perspektif ini, pendidikan nggak dilihat sebagai komoditas komersial semata. Urgensinya lebih dalam: agar manusia punya kemampuan menata hidup, bisa menakar segala sesuatu dengan tepat, dan tidak asal menjalani hari. Pada akhirnya, ini semua untuk menyiapkan peradaban yang unggul.
Menurut kitab "Nizhām at-Ta‘līm fī al-Islām", setidaknya ada empat pilar penting sistem pendidikan Islam:
Pertama, Asas Kurikulum. Landasannya harus akidah Islam. Ini jadi pondasi bagi seorang muslim, baik untuk ilmu syar'i seperti hukum-hukum agama, maupun ilmu umum macam sains dan teknologi. Selama ilmu itu tidak bertentangan dengan akidah, maka boleh dipelajari.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Bakal Pantau Kinerja Kemenkum HAM Lewat Layar Kecil
KPK Tangkap Dua Kepala Daerah, Disebut Titipan yang Dulu Mengemis Endorse
Hutang Budi Prabowo dan Parasit di Tubuh Kekuasaan
Sastra di Ujung Tanduk: Generasi Digital dan Kematian Imajinasi