Kuliah Dibilang Scam, Benarkah Menurut Kacamata Islam?

- Selasa, 20 Januari 2026 | 09:50 WIB
Kuliah Dibilang Scam, Benarkah Menurut Kacamata Islam?

Belakangan ini, jagat media sosial ramai dengan satu narasi yang cukup menohok. Beberapa konten kreator dengan lantang menyebut bahwa kuliah itu cuma 'scam' belaka alias penipuan. Inti argumennya, kalau jurusan yang diambil nggak sesuai spesialisasi atau passion, ya percuma. Lulusan bisa saja tidak mendapat keuntungan apa-apa. Kesimpulannya, untuk jadi pintar dan sukses, kuliah bukanlah jalan yang wajib.

Pernyataan seperti itu, wajar saja, langsung memantik perdebatan. Banyak yang setuju, tapi tak sedikit pula yang merasa framing-nya terlalu negatif dan gegabah. Lalu, benarkah kuliah bisa disamakan dengan sebuah penipuan?

Mari kita lihat dulu kata "scam" itu sendiri. Sejujurnya, istilah itu terasa kurang pas kalau dipakai untuk mendefinisikan 'kuliah'. Kalau kalimat "kuliah itu scam" kita urai, 'kuliah' jadi subjek, sementara 'scam' adalah penilaian atau predikatnya. Nah, di sini masalahnya. Narasi yang beredar sebenarnya bukanlah makna harfiah, melainkan lebih ke ekspresi kekecewaan. Biasanya, ini muncul karena realita setelah lulus tak seindah ekspektasi yang dibangun selama ini.

Namun begitu, menyematkan label 'scam' secara gegabah tetap saja berisiko. Kesannya jadi seperti vonis final, dan mengabaikan jarak emosional bagi mereka yang mungkin justru menemukan jalan hidupnya di bangku kuliah.

Bagaimana Islam Memandang Ilmu?

Sebenarnya, dalam Islam, menuntut ilmu itu perintah yang sangat jelas. Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita untuk mencari ilmu, baik lewat jalur formal maupun non-formal. Tidak ada yang didiskreditkan. Sebagaimana firman-Nya:

“……Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Mujadalah: 11).

Rasulullah Saw juga pernah bersabda tentang keutamaan orang berilmu:

وقال صلى الله عليه وسلم فَضْلُ العَالِمِ عَلىَ العَابِدِ كَفَضْلِ القَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ عَلىَ سَائِرِ الكَوَاكِبِ

“Keutamaan orang yang berilmu atas ahli ibadah bagaikan rembulan di malam purnama dibanding semua bintang di langit.” (Kitab "Tanqih al-Qaul al-Hatsits" karya Imam Nawawi).

Jadi, dalam perspektif ini, pendidikan nggak dilihat sebagai komoditas komersial semata. Urgensinya lebih dalam: agar manusia punya kemampuan menata hidup, bisa menakar segala sesuatu dengan tepat, dan tidak asal menjalani hari. Pada akhirnya, ini semua untuk menyiapkan peradaban yang unggul.

Menurut kitab "Nizhām at-Ta‘līm fī al-Islām", setidaknya ada empat pilar penting sistem pendidikan Islam:

Pertama, Asas Kurikulum. Landasannya harus akidah Islam. Ini jadi pondasi bagi seorang muslim, baik untuk ilmu syar'i seperti hukum-hukum agama, maupun ilmu umum macam sains dan teknologi. Selama ilmu itu tidak bertentangan dengan akidah, maka boleh dipelajari.

Kedua, Tujuan Pendidikan. Tujuannya ganda: membentuk kepribadian Islami yang tercermin dari pola pikir dan jiwa, serta mempersiapkan anak didik jadi ahli di berbagai bidang kehidupan. Mulai dari ulama fiqih sampai ilmuwan di bidang teknik, kedokteran, dan lain-lain.

Ketiga, Metode Pendidikan Islam. Metodenya disusun agar tidak menyimpang dari asas dan tujuannya. Proses belajar mengajar berpusat pada penyampaian dan penerimaan pemikiran. Di sini, akal dihargai sebagai instrumen utama aset yang membuat manusia mulia dan menjadi sebab dibebankannya hukum.

Keempat, Program Pendidikan Islam. Ini terbagi dua. Ilmu sains (umiyah) untuk pengembangan akal agar manusia bisa menetapkan hukum berdasarkan fakta, seperti kimia atau fisika. Lalu ada ilmu syar'iyah, yang berkaitan langsung dengan hukum halal-haram, wajib-sunnah, dan seterusnya. Ilmu yang kedua inilah yang membentuk pola pikir Islami.

Dari sini terlihat, peran negara sangat krusial dalam merealisasikan sistem pendidikan yang ideal. Islam tidak menjadikan pendidikan sebagai alat cari untung semata. Negara hadir agar hak dasar masyarakat seperti rasa aman, pendidikan, dan kesehatan bisa terpenuhi dengan mudah dan terjangkau.

Lalu, Seperti Apa Wajah Generasi Hebat Itu?

Sejarah mencatat banyak nama. Ambil contoh Fatimah al-Fihri, seorang muslimah di tahun 859 M yang mendirikan kompleks Al-Qarawiyyin. Tempat itu lalu berkembang menjadi universitas tertua di dunia, mengalahkan usia Oxford atau Harvard sekalipun.

Lalu ada Maryam al-Ijliya. Perempuan abad ke-10 dari Aleppo ini adalah ahli astronomi yang mengembangkan astrolabe, alat yang jadi cikal bakal sistem navigasi modern atau GPS kita sekarang.

Jangan lupakan Lubna, si pustakawan andal di era Kekhalifahan Umayyah di Cordoba. Dialah yang bertugas mengumpulkan buku-buku dari berbagai penjuru, hingga koleksinya mencapai lebih dari 500 ribu eksemplar. Kala itu, perpustakaannya adalah yang terbesar di Eropa.

Masih dari Baghdad, ada Sutayta, pakar matematika paruh kedua abad ke-10. Ia sangat mahir dalam aritmatika dan berhasil menemukan persamaan aljabar yang dikutip banyak ilmuwan setelahnya.

Figur-figur hebat ini menunjukkan bahwa dalam sistem yang mendukung, pendidikan bisa melahirkan generasi unggul yang memberi sumbangsih nyata bagi peradaban. Jejak mereka mungkin saja terulang kembali, jika syariat diterapkan secara kaffah untuk mencapai kemaslahatan yang luas.

Allahu‘alam bisshawaab.

Diana Uswatun Hasanah, Pegiat Literasi, tinggal di Malang.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar