Bahasa itu lebih dari sekadar sarana untuk bertukar informasi. Ia adalah jiwa dari sebuah komunitas penjaga nilai, penyimpan ingatan, dan penanda identitas yang paling dalam. Lewat bahasa, cara pandang dunia, tata sosial, dan seluruh warisan kebudayaan mengalir dari generasi tua ke generasi muda. Jadi, ketika suatu bahasa mulai redup, yang terancam punah bukan cuma kumpulan kosakata. Seluruh cara hidup yang melekat di dalamnya ikut terancam lenyap.
Di Indonesia, keragaman bahasa daerah adalah kekayaan yang luar biasa, tapi juga menghadirkan tantangan nyata. Di satu sisi, bahasa daerah menjadi simbol kebanggaan dan identitas lokal. Namun di sisi lain, ia harus bertahan di tengah tekanan bahasa nasional dan gempuran bahasa global yang kian masif.
Perubahan zaman, arus urbanisasi, dan mobilitas penduduk membuat banyak bahasa daerah terdesak. Ada yang masih kokoh bertahan, tapi tak sedikit yang sudah menunjukkan gejala kepunahan.
Nah, fenomena ini jadi menarik saat kita amati di daerah rantau. Bagi orang Minang, merantau bukan cuma soal cari nafkah. Itu adalah bagian dari jati diri budaya mereka, sebuah ritus peralihan yang sudah mengakar berabad-abad.
Merantau dipandang sebagai jalan untuk menjadi dewasa, baik secara sosial, ekonomi, maupun intelektual. Sekaligus, ini adalah cara memperluas jaringan kekerabatan dan adat. Saat pergi, mereka tidak datang dengan tangan kosong. Mereka membawa serta adat istiadat, sistem matrilineal, nilai musyawarah, dan tentu saja, bahasa ibu sebagai penanda utama identitas kolektif mereka.
Di tanah rantau, bahasa Minang punya peran ganda. Ia berfungsi sebagai alat komunikasi internal sesama perantau, sekaligus menjadi simbol solidaritas dan pengikat kesatuan di tengah lingkungan budaya yang berbeda.
Salah satu rantau tertua dan punya ikatan sejarah paling erat adalah Negeri Sembilan di Malaysia. Daerah ini sering disebut sebagai "rantau lama" orang Minang.
Sistem adat perpatih yang masih berlaku di sana jelas sekali menunjukkan hubungan langsung dengan budaya asal Minangkabau, baik dalam hal kepemimpinan maupun pola kekerabatan. Karena kedekatan historis ini, banyak yang berharap identitas termasuk bahasa Minang akan tetap lestari di Negeri Sembilan.
Tapi, kedekatan sejarah ternyata tak jadi jaminan. Hasil beberapa penelitian justru menunjukkan sebaliknya: vitalitas bahasa Minang di Negeri Sembilan tidak dalam kondisi yang benar-benar aman.
Memang, bahasa Minang masih diakui sebagai simbol adat dan identitas. Namun, penggunaannya dalam keseharian sangat terbatas. Di ranah yang lebih formal seperti sekolah, kantor, atau tempat umum, bahasa Melayu standar dan bahasa Inggris jauh lebih dominan.
Artikel Terkait
Forum Advokasi Soroti KUHP Baru dan Kasus Ijazah Palsu di Tengah Gelombang Kriminalisasi
Coki Pardede dan Malam Kelam yang Berujung Rehabilitasi
Adaptasi Live Action 5 Centimeters Per Second Segera Hangatkan Bioskop Indonesia
Ledakan di Restoran China Kabul Tewaskan 7 Orang, ISIS Klaim Tanggung Jawab