Rupiah Melemah Tipis ke Rp16.811 di Tengah Ketegangan AS-Iran dan Tunggu Data Ekonomi Global

- Selasa, 10 Februari 2026 | 18:20 WIB
Rupiah Melemah Tipis ke Rp16.811 di Tengah Ketegangan AS-Iran dan Tunggu Data Ekonomi Global

Nilai tukar rupiah menutup perdagangan Selasa (10/2/2026) dengan posisi sedikit lebih lemah. Tepatnya, melemah 6 poin atau sekitar 0,04 persen ke level Rp16.811 per dolar AS. Pelemahan tipis ini terjadi di tengah sorotan pada sejumlah sentimen global yang cukup mengganggu.

Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, salah satu pemicunya berasal dari luar negeri. Sentimen itu muncul setelah Departemen Transportasi AS, lewat Administrasi Maritimnya, mengeluarkan imbauan khusus di hari Senin.

“Badan tersebut menyarankan kapal-kapal berbendera AS untuk tetap dekat dengan Oman selama penyeberangan, dengan alasan risiko diserbu oleh pasukan Iran,” jelas Ibrahim dalam risetnya.

Intinya, kapal-kapal AS disarankan menjauhi wilayah Iran saat melintasi Selat Hormuz dan Teluk Oman. Peringatan ini langsung bikin was-was, karena mengingatkan semua orang bahwa ketegangan AS-Iran masih tinggi. Padahal, baru-baru ini kedua negara sempat mencatat kemajuan dalam pembicaraan dan berjanji akan terus berdialog soal program nuklir. Namun begitu, Teheran tampaknya masih enggan menghentikan pengayaan nuklirnya poin yang selalu jadi persoalan besar bagi Washington.

Di sisi lain, fokus pasar minggu ini juga tertuju pada data ekonomi dari konsumen minyak terbesar dunia. Data-data ini diharap bisa memberi gambaran soal prospek permintaan ke depan. Di AS, data penggajian non-pertanian untuk Januari akan keluar Rabu, disusul data inflasi indeks harga konsumen pada Jumat.

Semua angka itu nantinya bakal mempengaruhi perkiraan soal arah suku bunga AS, apalagi di tengah situasi kepemimpinan Federal Reserve yang sebentar lagi akan berganti.

Tak ketinggalan, China juga akan merilis data CPI di hari Jumat. Waktunya pas sebelum libur panjang Tahun Baru Imlek. Liburan selama seminggu itu biasanya mendongkrak perjalanan dan permintaan bahan bakar di Tiongkok faktor yang juga diamati para pelaku pasar.

Editor: Bayu Santoso


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar