Wall Street Dibayangi Kekhawatiran AI dan Data Ekonomi, Indeks Utama Melemah

- Senin, 09 Februari 2026 | 22:35 WIB
Wall Street Dibayangi Kekhawatiran AI dan Data Ekonomi, Indeks Utama Melemah

MURIANETWORK.COM - Pasar saham Amerika Serikat (AS) kembali dibayangi sentimen negatif seiring dibukanya perdagangan Senin (9 Februari 2026). Indeks utama Wall Street melemah, melanjutkan tekanan pada sektor teknologi yang terjadi pekan lalu. Pelemahan ini dipicu kekhawatiran investor terhadap dampak persaingan kecerdasan buatan (AI) pada margin keuangan perusahaan, sementara pasar juga bersiap menyambut serangkaian data ekonomi kunci yang akan mempengaruhi proyeksi suku bunga The Fed.

Tekanan Berlanjut di Awal Pekan

Pada bel perdagangan pertama, Dow Jones Industrial Average tercatat turun 67,9 poin (0,14%) ke level 50.047,79. Indeks S&P 500 melemah 15 poin (0,22%) menjadi 6.917,26, sementara Nasdaq Composite yang sarat teknologi kehilangan 79 poin (0,34%) ke posisi 22.952,24. Pelemahan ini terjadi meski sempat ada rebound singkat di akhir pekan lalu, yang ternyata belum cukup kuat untuk mengubah sentimen pasar secara keseluruhan.

Analis pasar senior Swissquote Bank, Ipek Ozkardeskaya, memberikan pandangannya mengenai kondisi tersebut.

"Setelah pekan lalu berjalan sangat fluktuatif, rebound yang terjadi pada Jumat belum terlihat sebagai awal pembalikan tren yang berkelanjutan. Jadi saya tidak terkejut melihat kontrak berjangka kembali turun pagi ini," ungkapnya.

Belanja AI Raksasa Teknologi Picu Kekhawatiran

Fokus utama pasar masih tertuju pada dinamika di sektor teknologi. Kekhawatiran utama bermula dari laporan kinerja dan proyeksi belanja modal perusahaan-perusahaan raksasa teknologi, yang dijuluki "Magnificent Seven". Raksasa seperti Amazon, Google, Meta, dan Microsoft diperkirakan akan menggelontorkan belanja hingga sekitar USD650 miliar tahun ini untuk memperkuat posisi dalam perlombaan pengembangan AI.

Editor: Novita Rachma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar