Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengungkapkan telah menyiapkan sistem deteksi dini yang melibatkan pelaku usaha cabai dan bawang di berbagai daerah sebagai langkah strategis menjaga stabilitas harga. Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas, Andriko Noto Susanto, menjelaskan bahwa sistem tersebut dirancang untuk memantau kondisi produksi dan distribusi secara real-time.
Melalui sistem ini, pasokan dapat segera dialihkan dari daerah yang mengalami surplus ke wilayah yang kekurangan. Langkah itu diambil untuk mengantisipasi lonjakan harga yang kerap terjadi akibat ketidakseimbangan distribusi.
"Jadi kalau misalnya nanti harga di DKI mahal, kemudian di Jawa Timur harganya relatif stabil, produksinya bagus, nanti cabai dari Jawa Timur didistribusikan ke DKI Jakarta," ujar Andriko dalam konferensi pers pada Senin (8/6/2026).
Bapanas, lanjut dia, berkoordinasi dengan Dinas Pertanian serta Dinas Ketahanan Pangan di masing-masing provinsi dan kabupaten untuk memfasilitasi proses distribusi tersebut. Salah satu bentuk fasilitasi yang diberikan adalah penangguhan biaya distribusi oleh pemerintah.
"Ongkos distribusinya itu ditanggung oleh pemerintah. Jadi tidak ada alasan bahwa kenaikan itu disebabkan oleh ongkos distribusi yang ditanggung oleh pelaku usaha," tegas Andriko.
Di sisi lain, faktor musiman dan kondisi iklim tetap menjadi variabel utama yang memengaruhi harga cabai di tingkat petani. Menurut Andriko, saat cuaca mendukung dan panen melimpah, harga cabai cenderung stabil bahkan menurun. Sebaliknya, gangguan iklim dapat menekan produksi dan mendorong kenaikan harga.
"Jadi cabai itu ketersediaannya di lapangan sangat dipengaruhi oleh musim. Jadi kalau musimnya bagus, panennya besar, biasanya nanti harganya stabil malah cenderung turun. Tapi pada saat nanti iklimnya tidak bagus, harganya turun, kemudian produksinya turun, sehingga harganya naik," kata Andriko.
Dengan adanya sistem deteksi dini dan intervensi biaya distribusi, pemerintah berharap fluktuasi harga cabai dapat ditekan seminimal mungkin, terutama di wilayah-wilayah yang selama ini rentan mengalami lonjakan harga.
Artikel Terkait
Kelebihan Kapasitas Baja Global Diproyeksi Tembus 745 Juta Ton pada 2028, OECD Soroti Dominasi Subsidi China
Indonesia dan Filipina Sepakati Skema Barter Senilai Rp6,29 Triliun untuk Hadapi Tekanan Nilai Tukar
Polisi Masih Buru Perempuan yang Diduga Bacok Pemuda Hingga Kehilangan Jari di Makassar
Polisi Periksa 57 Saksi dan Sita 21 Mobil Terkait Bocah Tewas Digigit Anjing Pemburu Babi di Bogor