BEI Cabut Status Papan Khusus Saham RLCO Mulai 10 Februari 2026

- Senin, 09 Februari 2026 | 21:20 WIB
BEI Cabut Status Papan Khusus Saham RLCO Mulai 10 Februari 2026

Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya mencabut status papan khusus untuk saham PT Abadi Lestari Indonesia Tbk, atau RLCO. Mulai besok, 10 Februari 2026, perdagangan saham emiten sarang burung walet ini tak lagi pakai skema full-call auction (FCA). Kabar resminya disampaikan Senin lalu.

Kepala Divisi Peraturan dan Layanan Perusahaan Tercatat BEI, Teuku Fahmi Ariandar, menegaskan,

"Perubahan ini mulai efektif pada tanggal 10 Februari 2026."

Lepas dari papan FCA, perjalanan saham RLCO memang cukup berliku. Baru seminggu dicantumkan di papan pemantauan khusus, saham ini langsung menunjukkan gejolak yang tajam. Dalam periode singkat itu, harganya terpangkas 32,5 persen, terhempas ke level Rp6.075 per lembar.

Tapi jangan salah. Kalau dilihat dari masa IPO-nya pada 8 Desember 2025, kinerja RLCO justru luar biasa. Bayangkan, investor yang bertahan sejak awal dan belum melepas sahamnya sampai sekarang bisa menikmati keuntungan fantastis, sekitar 3.500 persen! Volatilitasnya yang tinggi inilah yang rupanya terus memantik perhatian pihak Bursa.

Tak heran, dalam catatan, saham RLCO sudah tiga kali kena suspensi hanya dalam kurun dua bulan terakhir. Pergerakannya benar-benar tak bisa ditebak.

Menanggapi gejolak harga yang kerap terjadi, Direktur & Corporate Secretary RLCO, Ayu Amanda, mengaku pihak perusahaan juga sedang mengamati. Menurutnya, perusahaan tidak punya informasi pasti soal pemicu kenaikan signifikan itu. Semuanya lebih ke faktor pasar.

"Hingga saat ini tidak terdapat informasi atau kejadian material di internal perseroan yang belum diungkapkan kepada publik dan dapat memengaruhi pergerakan harga saham perseroan,"

ujar Ayu belum lama ini. Ia berpendapat, naik-turunnya harga lebih dipengaruhi mekanisme pasar dan kondisi pasar modal secara umum. Jadi, semua kembali pada sentimen dan permainan supply-demand di lapangan.

(Rahmat Fiansyah)

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar