Sejarah peradaban Islam memberi bukti nyata. Pendidikan yang dibangun di atas landasan syariat ternyata mampu melahirkan generasi berilmu sekaligus berakhlak. Ulama, ilmuwan, pemimpin mereka lahir dari sistem yang menjadikan iman sebagai pondasi berpikir dan bertindak. Keunggulan intelektual berpadu dengan komitmen moral yang kuat terhadap kebenaran dan keadilan. Fakta ini menunjukkan sesuatu: kejayaan itu bukan lahir "meski" syariat, melainkan justru "karena" syariat.
Jadi, problem pendidikan kita hari ini sejatinya bukan cuma persoalan teknis. Bukan soal kurang fasilitas, metode, atau inovasi. Persoalannya lebih dalam: bersifat sistemik dan ideologis. Selama pendidikan dibangun di atas paradigma yang memisahkan iman dari ilmu, sebanyak apa pun reformasi dilakukan, kerusakan akan terus berulang. Hanya dengan wajah yang berbeda-beda.
Sudah waktunya pendidikan dikembalikan pada fitrahnya. Ia harus jadi sarana membentuk manusia yang bertanggung jawab, baik di hadapan Allah maupun di tengah masyarakat. Pendidikan tak boleh berhenti pada pencetakan tenaga kerja. Ia harus diarahkan untuk melahirkan generasi yang mampu menjaga kebenaran, menegakkan keadilan, dan merawat peradaban. Tanpa fondasi syariat, yang lahir hanyalah kecerdasan tanpa arah. Kemajuan tanpa keberkahan.
Wallahu a’lam bishowab.
Selvi Sri Wahyuni M.Pd
Pegiat Pendidikan
Artikel Terkait
Analis Ragukan Klaim Israel Hancurkan Helikopter Iran, Diduga Hanya Lukisan di Aspal
Sejumlah Negara Timur Tengah Dukung Inisiatif Diplomasi Prabowo untuk Iran-AS
Balita Tewas di Sidoarjo, Polisi Selidiki Dugaan Penganiayaan
Kompolnas Selidiki Posisi Tangan Oknum Polisi dalam Rekaman CCTV Penembakan Remaja di Makassar