Menguak Peta Perang Global: Benarkah Islam Biang Keladi Konflik dan Kemiskinan?

- Minggu, 18 Januari 2026 | 19:00 WIB
Menguak Peta Perang Global: Benarkah Islam Biang Keladi Konflik dan Kemiskinan?

✍🏻 Ismail Amin

Baik, saya coba jawab pertanyaan itu. Kenapa sih negara-negara Islam sering dikaitkan dengan perang dan kemiskinan? Rasanya perlu kita bedah dulu asumsi dasarnya.

Pertama-tama, saya mau koreksi sedikit. Kalau kita lihat data sejarah global, justru negara-negara berpenduduk mayoritas Kristen yang paling banyak memicu perang besar. Ambil contoh Perang Dunia I dan II, siapa aktor utamanya? Inggris, Prancis, Jerman, Italia, sampai Amerika Serikat. Semuanya negara-negara Kristen.

Belum lagi Perang Korea, Vietnam, konflik Balkan, dan yang sekarang terjadi di Ukraina. Tidak satupun dari medan perang itu didominasi negara Islam. AS sendiri, catatannya luar biasa: lebih dari 200 intervensi militer sejak 1945.

Jadi, klaim yang menghubungkan kemiskinan dengan agama tertentu itu meleset. Akar masalahnya jauh lebih kompleks: sejarah kolonial yang panjang, korupsi para elite, dan jerat ketergantungan dalam sistem ekonomi global. Agama bukan variabel utamanya.

Lantas, dari mana muncul persepsi bahwa negara Islam identik dengan konflik dan kemelaratan? Menurut sejumlah pengamat, jawabannya justru terletak pada intervensi asing dan rekayasa geopolitik. Bukan pada ajaran agamanya.

Coba kita lihat realitanya. Irak hancur lebur karena diinvasi siapa? Afghanistan porak-poranda selama dua dekade oleh siapa? Libya runtuh setelah dijatuhkan oleh siapa? Jawabannya: oleh kekuatan-kekuatan dari luar, terutama NATO.

Suriah pun begitu. Negara itu berubah jadi medan perang proxy setelah kelompok pemberontak dipersenjatai dan didanai oleh pihak asing.

Intinya, banyak negara Muslim justru menjadi korban, bukan pelaku utama. Wilayah mereka kebetulan strategis – kaya minyak, gas, dan jadi jalur perdagangan dunia. Karena itu, mereka jadi sasaran empuk untuk campur tangan, kudeta, sanksi, dan konflik yang sengaja diciptakan.


Halaman:

Komentar