Polanya kira-kira begini: negara yang menolak tunduk pada kepentingan asing akan dihancurkan. Sementara yang patuh, mungkin terlihat stabil, tapi sebenarnya rapuh dan lemah secara fundamental.
Fakta paling telanjang? Lihat saja kondisi negara-negara itu sebelum diintervensi. Apakah Suriah miskin dan berperang sebelum ada campur tangan asing? Tentu tidak.
Jadi, masalah sebenarnya bukan terletak pada Islam. Ini soal kedaulatan. Siapa yang boleh berdaulat penuh, dan siapa yang dipaksa untuk tunduk.
Kalau Islam dianggap penyebab perang, Iran pasti sudah runtuh sejak lama. Kalau Islam penyebab kemiskinan, negara Muslim yang tidak diintervensi tak akan bisa stabil dan berkembang.
Yang menghancurkan sebenarnya adalah sistem global yang tidak memberi ruang bagi kemandirian suatu bangsa.
Lihat saja Qatar, Arab Saudi, Oman, Uni Emirat Arab, atau Malaysia. Mereka relatif stabil, ekonominya tumbuh, dan tidak terlibat perang. Iran, meski dihujani sanksi paling keras, tetap berdiri dan bahkan punya pencapaian teknologi yang mandiri. Masalah baru muncul ketika intervensi datang.
Kesimpulannya, peta perang dan kemiskinan itu mengikuti peta kepentingan global, bukan peta agama. Negara yang punya sumber daya dan berani menolak tunduk, apapun agamanya, akan menghadapi tekanan. Buktinya, Venezuela yang Kristen pun presidennya pernah hendak ‘diculik’ oleh AS.
Jadi, narasi yang menyederhanakan konflik dan kemiskinan sebagai masalah agama itu keliru. Realitanya jauh lebih rumit, dan lebih banyak berkaitan dengan permainan kekuasaan di panggung dunia.
Artikel Terkait
Serpihan Ditemukan, Menteri Perhubungan Pantau Langsung Pencarian ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung
Noe Letto di Wantimpres: Penunjukan Strategis atau Strategi Penjinakan?
Prabowo Menitikkan Air Mata di Pernikahan Sekretaris Pribadinya
Pernikahan di Tengah Banjir, Sukacita Tak Tergenang Air