BMKG Prediksi Kemarau 2026 Lebih Awal, Parah, dan Meluas

- Jumat, 06 Maret 2026 | 14:45 WIB
BMKG Prediksi Kemarau 2026 Lebih Awal, Parah, dan Meluas

Musim kemarau tahun depan bakal beda. BMKG sudah angkat bicara, dan prediksinya cukup mengkhawatirkan. Mereka bilang, tahun 2026 nanti, musim kering diperkirakan datang lebih awal dan jauh lebih parah ketimbang biasanya. Masyarakat diimbau untuk waspada dari sekarang.

Biasanya kan kita punya pola. Tapi tahun depan, sekitar April, tanda-tanda kemarau sudah akan terasa di 114 zona musim. Wilayahnya mencakup Jawa, NTB, sampai sebagian Kalimantan. Intinya, hampir separuh lebih wilayah Indonesia tepatnya 46,5% akan merasakan kemarau yang datang lebih cepat dari jadwal normal. Daerah-daerah di Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, sampai Papua, semuanya kena imbas.

Puncaknya diprediksi terjadi di Agustus 2026. Dan yang bikin resah, durasinya juga lebih panjang. Sekitar 57,2% wilayah negeri ini akan mengalami masa kering yang berlarut-larut. BMKG bahkan menyebut kondisi ini sebagai "Bawah Normal". Artinya, kekeringan yang akan terjadi jauh lebih ekstrem dibanding rata-rata tahun-tahun sebelumnya.

Lalu, apa penyebabnya?

Menurut analisis, ini akibat peralihan cuaca ekstrem. Fenomena La Niña sudah berakhir dan kita menuju fase El Niño. Ditambah lagi, peralihan angin monsun dari Asia ke Australia yang memang membawa periode lebih kering. Faktor lain seperti IOD yang netral juga tak banyak membantu; tak ada tambahan curah hujan signifikan yang bisa meredam ancaman kekeringan ini.

Dampaknya? Bisa dibilang menyeluruh dan serius.

Pertanian, misalnya. Debit air irigasi bakal menyusut drastis. Tanaman pangan akan stres, produktivitas anjlok. Risiko gagal panen total atau yang biasa disebut puso sangat tinggi. Belum lagi serangan hama dan penyakit yang biasanya makin ganas di musim kering ekstrem.

Di sisi lain, sektor lingkungan juga terancam. Kondisi Bawah Normal membuat vegetasi dan lahan gambut jadi sangat rentan. Titik panas dipastikan meningkat, terutama di rawa-rawa Sumatra dan Kalimantan. Kalau sudah terbakar, kabut asap pekat bakal muncul lagi. Sudah bisa dibayangkan, jarak pandang terganggu, aktivitas transportasi lumpuh, dan tentu saja masalah kesehatan.

Ya, bicara kesehatan, ini juga jadi masalah besar. Debu dan asap kebakaran memicu ISPA. Sementara itu, akses air bersih yang terbatas berpotensi meningkatkan kasus diare dan kolera. Yang paling mengerikan, gagal panen berkepanjangan bisa bikin harga pangan melambung. Imbasnya, stabilitas gizi masyarakat, khususnya kelompok ekonomi lemah, benar-benar terancam.

Dampak sosial ekonominya jelas terasa. Kelangkaan stok beras dan sayuran memicu inflasi. Harga-harga melonjak. Di tingkat akar rumput, keterbatasan air irigasi bisa memicu gesekan antar petani atau bahkan konflik antar wilayah yang memperebutkan sumber air yang sama.

Lalu, apa yang sudah disiapkan pemerintah?

Menyikapi prediksi ini, status Siaga Darurat Kekeringan serta Kebakaran Hutan dan Lahan sudah diaktifkan. Beberapa langkah mitigasi konkret mulai dijalankan.

Kementerian PUPR, misalnya, sedang fokus pada "panen hujan". Mereka mengoptimalkan operasional pintu air di bendungan-bendungan besar seperti Jatiluhur dan Gajah Mungkur agar elevasi air tetap stabil. Pengerukan sedimen di saluran irigasi juga dipercepat biar aliran air nggak terhambat. Sementara untuk daerah rawan krisis seperti NTT atau Gunungkidul, PDAM sudah menyiagakan mobil tangki dan mempercepat pembangunan sumur bor darurat.

Kementerian Pertanian juga tak tinggal diam. Gerakan Pompanisasi Nasional digencarkan. Ribuan unit pompa air didistribusikan ke sentra produksi padi tadah hujan, terutama untuk menyelamatkan Musim Tanam II. Bantuan benih varietas unggul yang tahan kekeringan, seperti Inpari 38, juga disalurkan ke petani.

Intinya, ancamannya nyata. Kemarau 2026 diprediksi lebih awal, lebih panjang, dan lebih kering. Persiapan dari sekarang bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Dari level pemerintah sampai kita di rumah, kewaspadaan dan langkah antisipasi harus dimulai. Kalau nggak, krisis air, pangan, dan kesehatan bisa jadi bayangan suram di tengah teriknya musim kemarau tahun depan.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar