Di tengah hiruk-pikuk Jakarta, Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta menyampaikan pandangan yang cukup suram tentang masa depan dunia. Menurutnya, tahun 2026 dan seterusnya bakal diwarnai konflik global yang jauh lebih berbahaya. Pernyataan itu ia sampaikan usai menghadiri Indonesia Humanitarian Summit di Nusantara Ballroom NT Tower, Jakarta Timur, Kamis lalu.
"Sekarang kita memasuki pendalaman konflik global yang lebih berbahaya di tahun 2026 dan tahun-tahun sesudahnya,"
katanya kepada awak media yang menunggu. Suaranya terdengar tenang, tapi isinya berat.
Anis Matta punya alasan untuk pesimis. Ia melihat lembaga-lembaga multilateral, yang seharusnya jadi penjaga perdamaian, justru kian kehilangan taji. PBB disebutnya semakin tidak berdaya. Tak cuma itu, hukum internasional pun seolah tak lagi dipandang sebelah mata oleh banyak negara.
"Kita sudah melihat bahwa lembaga-lembaga multilateral seperti PBB semakin tidak berdaya, juga hukum internasional semakin tidak dihargai,"
ujarnya lagi. Imbasnya jelas: hubungan antarnegara sekarang lebih sering ditentukan oleh siapa yang paling kuat, bukan oleh aturan main bersama. Pendekatan hard power alias kekuatan keras jadi bahasa yang lebih umum dipakai.
Nah, kecenderungan ini bikin situasi jadi rawan. Hubungan bilateral gampang sekali memanas dan berujung konflik. Dan dari sinilah, ancaman perang global disebutnya meningkat drastis.
"Ancaman perang sekarang ini meningkat jauh lebih besar daripada tahun-tahun sebelumnya,"
tegas Anis.
Lalu, bagaimana Indonesia harus menyikapi? Di tengah dunia yang makin tak menentu ini, Anis menekankan satu hal: ketahanan nasional adalah kunci. Indonesia tidak bisa hanya menonton. Negeri ini perlu antisipasi lebih besar dan membangun daya tahan yang kokoh.
Dan bagian terpenting dari ketahanan itu? Kohesi sosial. Menjaga persatuan dan kesatuan di dalam negeri bukan lagi sekadar wacana, melainkan pondasi utama untuk menghadapi gejolak luar.
"Sehingga kita, Indonesia, perlu melakukan antisipasi yang lebih besar, meningkatkan daya tahan kita sebagai bangsa. Dan saya rasa, di antara bagian dari pembentuk ketahanan nasional kita itu adalah kohesi sosial,"
pungkasnya. Pesannya singkat, tapi mendalam: di tengang badai global, bersatu dalam negeri adalah langkah pertama untuk bertahan.
Artikel Terkait
Penyidik Polda Sumut Geledah Kantor Diskominfo Tebing Tinggi Usai OTT
Polisi Purbalingga Gagalkan Dua Modus Penyalahgunaan Subsidi LPG dan BBM
Presiden Prabowo Ucapkan Selamat Dharma Santi dan Sampaikan Permohonan Maaf
Ibu Laporkan Perawat RSHS Bandung atas Dugaan Percobaan Penculikan Bayi