Begitu kata Bobi Wine kepada AFP. Situasinya memang mencekam. Ratusan pendukungnya dilaporkan ditangkap mendekati hari pemilu. Wine sendiri sampai harus mengenakan rompi antipeluru saat berkampanye. Ia menyebut pertarungan politik ini bagai sebuah "perang", dan menjuluki Museveni sebagai "diktator militer".
Museveni tak kalah garang. Dalam kampanye penutupannya, ia bersuara lantang mendorong warga untuk tetap memilih, sambil menyelipkan ancaman.
Ancaman itu sepertinya bukan omong kosong. Laporan dari kelompok HAM dan organisasi pers menguak banyak hal. Jurnalis dikatakan mengalami intimidasi, ruang gerak pemantau pemilu dibatasi. Human Rights Watch menilai oposisi menghadapi "represi brutal". Sementara Reporters Without Borders mencatat ada kekerasan yang menimpa jurnalis lokal saat meliput kampanye.
Pada akhirnya, pemilu ini cuma mengukuhkan lagi dilema lama Uganda. Di satu sisi, ada stabilitas yang ditawarkan pemimpin yang sudah berpuluh tahun berkuasa. Di sisi lain, tuntutan perubahan kian keras, berseliweran dengan tuduhan pembatasan demokrasi yang makin menjadi-jadi. Sebuah pilihan yang, sekali lagi, digantungkan pada suara rakyat di tengah situasi yang jauh dari normal.
Artikel Terkait
Menhub Imbau Maskapai Tingkatkan Kewaspadaan Terkait Konflik Timur Tengah
BSI Bone Luncurkan Program Bone Berhaji, Diapresiasi Bupati
Ali Larijani Dipercaya Kendalikan Iran Usai Kematian Khamenei dalam Serangan
Bupati Tinjau Persiapan Lahan 300 Hektare untuk Kampung Produktif di Bone