Aksi demonstrasi di depan Mabes Polri pekan lalu sempat memanas. Seorang peserta yang mengenakan jaket berlogo kampus terlihat berbicara dengan nada tinggi sambil menunjuk-nunjuk petugas. Video insiden itu pun ramai beredar, dan banyak yang mengira pelakunya adalah mahasiswa Universitas Indonesia.
Namun begitu, pihak UI dengan tegas membantah. Mereka menyatakan bahwa orang dalam video tersebut bukanlah mahasiswanya.
Begitu isu ini mencuat, kampus langsung bergerak cepat. Kantor Organisasi Kemahasiswaan bersama Humas UI melakukan penelusuran internal. Mereka berkoordinasi dengan berbagai unit, bahkan mengecek ke BEM dan fakultas-fakultas. Intinya, mereka ingin memastikan kebenaran informasi yang beredar luas itu.
Hasilnya jelas. Direktur Hubungan Masyarakat, Media, Pemerintah dan Internasional UI, Erwin Agustian Panigoro, membeberkan fakta yang mereka temukan.
"Dari hasil penelusuran lebih lanjut pada sistem pendataan resmi, diketahui bahwa individu tersebut berstatus sebagai mahasiswa aktif di perguruan tinggi lain, dan sama sekali tidak memiliki afiliasi akademik dengan Universitas Indonesia," kata Erwin, seperti dilansir Antara, Senin (2/3/2026).
Pengecekan itu dilakukan bersama BEM Fakultas Ilmu Administrasi UI dan merujuk data resmi PDDIKTI. Kesimpulannya sama: bukan mahasiswa UI.
Di sisi lain, UI melalui Erwin juga menyampaikan sikap prinsipil mereka. Sebagai institusi pendidikan, mereka menghormati hak berpendapat dan menyampaikan aspirasi secara damai. Tapi ada batasannya.
Kampus itu menolak keras segala bentuk provokasi atau tindakan yang melanggar hukum. Perilaku seperti itu, menurut mereka, bertentangan dengan nilai integritas dan nalar kritis yang bertanggung jawab yang selalu mereka junjung.
Masalah lainnya adalah soal atribut. Dalam demo Jumat (27/2) itu, pelaku diduga memakai simbol-simbol institusi. UI keberatan. Penggunaan atribut tanpa izin itu berpotensi menyesatkan publik dan, yang jelas, bisa mencemari nama baik kampus serta pihak-pihak yang tak ada sangkut pautnya.
Mereka pun mengingatkan kita semua. Di tengah banjir informasi digital, masyarakat harus lebih kritis. Jangan mudah menyebar berita yang belum jelas kebenarannya. Kehati-hatian adalah kunci untuk mencegah disinformasi dan menjaga ekosinformasi publik yang sehat.
"Kami sampaikan klarifikasi ini agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi yang dapat merugikan nama baik Universitas Indonesia. UI berkomitmen untuk terus menjaga marwah institusi serta mendukung penyampaian aspirasi yang konstruktif, tertib, dan selaras dengan prinsip demokrasi," pungkas Erwin.
Jadi, kasusnya sudah jelas. Orang yang viral itu bukan dari UI. Kampus telah meluruskan, sekaligus menegaskan kembali posisi dan nilai-nilai yang mereka anut.
Artikel Terkait
PDRB Jatim Tembus Rp3.403 Triliun, Kontribusi ke Nasional Capai 14,4%
Gus Ipul: Program Sekolah Rakyat Tunjukkan Hasil, Siswa Lebih Percaya Diri dan Berkarakter
Prodia Resmikan Klinik Stem Cell Pertama, Fokus pada Pengobatan Ortopedi
Prancis Tuding Hizbullah Serang Patroli UNIFIL, Satu Tentara Tewas di Lebanon Selatan