Iran diguncang duka. Pemimpin Tertinggi mereka, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam sebuah serangan militer yang diklaim sebagai aksi gabungan Amerika Serikat dan Israel. Peristiwa Sabtu (28/2/2026) itu langsung menciptakan kekosongan kekuasaan yang dalam di jantung Republik Islam.
Lalu, siapa yang kini memegang kendali? Di tengah situasi yang serba tak pasti, satu nama langsung muncul ke permukaan: Ali Larijani. Sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC), pria ini praktis menjadi otak di balik kebijakan pertahanan dan keamanan Iran. Meski konstitusi menyebutkan kepemimpinan sementara akan dijalankan oleh sebuah dewan transisi, kenyataan di lapangan menunjukkan wewenang tertinggi saat ini ada di tangan Larijani.
Ini bukan kebetulan. Larijani punya hubungan yang sangat erat dengan mendiang Khamenei. Bahkan, dia pernah ditunjuk sebagai perwakilan khusus sang pemimpin di dewan yang sama itu sejak 1996. Posisi itu memberinya akses penuh ke ruang-ruang rahasia tempat kebijakan nuklir dan keamanan nasional dirumuskan. Tak heran, ketika ketegangan dengan Israel memuncak tahun lalu, Larijani kembali dipercaya memegang tampuk SNSC.
Profil Singkat Sang Penjaga
Lahir di Najaf, Irak, pada 1957, latar belakang Larijani kuat. Keluarganya adalah ulama terpandang yang punya hubungan dekat dengan pendiri revolusi, Ayatollah Khomeini. Dia sendiri menyandang gelar doktor Filsafat Barat dari Universitas Teheran.
Kariernya berlapis-lapis. Dia seorang veteran Garda Revolusi, pernah memimpin stasiun televisi negara IRIB selama sepuluh tahun, dan duduk sebagai Ketua Parlemen untuk periode yang cukup panjang, dari 2008 hingga 2020. Meski beberapa kali gagal dalam pemilihan presiden terakhir didiskualifikasi pada 2021 dan 2024 pengaruhnya tak pernah benar-benar pudar. Dia tetap berada di dalam lingkaran kekuasaan.
Sumpah dan Janji Balas Dendam
Pasca-tragedi, Larijani tidak tinggal diam. Lewat akun media sosialnya, dia melontarkan ancaman yang keras dan gamblang terhadap AS.
“Kita akan menyerang mereka dengan kekuatan yang belum pernah mereka alami sebelumnya,” tulisnya.
Pernyataan serupa datang dari Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. Dalam sikap yang beriringan, dia menegaskan bahwa membalas dendam bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah kewajiban.
“Iran menganggap sebagai tugas dan hak yang sah untuk membalas para pelaku dan dalang kejahatan bersejarah ini,” tegas Pezeshkian, Minggu (1/3/2026).
Nada dari Teheran jelas: keras dan tak berkompromi. Dunia kini menunggu, apa langkah konkret berikutnya dari rezim yang sedang berduka dan murka ini, dengan Ali Larijani sebagai sosok kunci di balik layar atau mungkin, justru di garis depan.
Artikel Terkait
Ibu Laporkan Perawat RSHS Bandung atas Dugaan Percobaan Penculikan Bayi
Kejati Sulsel Periksa Mantan Pimpinan DPRD Terkait Korupsi Bibit Nanas Rp60 Miliar
Pria di Bandung Barat Tewas Ditikam Teman Sekontrakan Usai Dituduh Mencuri
Nelayan Temukan Sabu Lebih dari Satu Kilogram di Pantai Pangkep