“Celakanya,” tegas Sutoyo, “akibat kesengajaan atau keterbatasan bahasa, ‘flourishing’ dibaca sebagai ‘happiness’. Lalu dibacakan Presiden bahwa rakyat kita paling bahagia sedunia.”
Padahal, survei itu punya beberapa variabel jelas: “Happiness and life satisfaction. Mental and physical character and virtue. Close social and relationship. Financial and material stability.”
‘Flourishing’ sendiri menggambarkan kesejahteraan mental tertinggi. Ini mencakup emosi positif, fungsi psikologis, plus hubungan sosial yang baik. Bisa jadi, nilai-nilai Pancasila yang ditanamkan pendiri bangsa memengaruhi hal ini.
Sutoyo kemudian menguraikan dua hal. Pertama, “Happiness and life satisfaction” sebagai salah satu variabel langsung dimaknai sebagai hasil akhir survei. Kesimpulannya pun melompat: rakyat Indonesia paling bahagia.
Padahal, ‘kebahagiaan’ merujuk pada perasaan senang dan tenteram, bebas dari hal yang menyusahkan. Sementara ‘kepuasan hidup’ adalah penilaian seseorang terhadap hidupnya secara keseluruhan masa lalu, sekarang, dan harapan masa depan.
Jadi, klaim Presiden di acara Natal itu tidak akurat. Apalagi jika merujuk World Happiness Report 2025 yang berafiliasi dengan PBB. Laporan itu justru menempatkan tingkat kebahagiaan rakyat Indonesia di urutan tengah, bahkan cenderung bawah.
Menurut sejumlah saksi, kesalahan seperti ini memperlihatkan bagaimana data kompleks bisa disederhanakan secara gegabah. Akhirnya, yang terdengar bukan fakta, tapi narasi yang menyesatkan.
Artikel Terkait
Polisi Sumsel Belum Terima Laporan Resmi Dugaan Perundungan Mahasiswi PPDS UNSRI
Buruh Tolak Wacana Pilkada Lewat DPRD, Khawatir Upah Makin Terpuruk
5 Drama China dengan Hubungan Paling Toxic, Bikin Gregetan tapi Tetep Nagih
KPK Geledah Kantor Pajak Pusat, Koper Barang Bukti Dibawa Keluar