HUT ke-61 Golkar Sintang Diwarnai Doa untuk Korban Banjir dan Syukur untuk Soeharto

- Sabtu, 06 Desember 2025 | 12:48 WIB
HUT ke-61 Golkar Sintang Diwarnai Doa untuk Korban Banjir dan Syukur untuk Soeharto

Pontianak - Jumat malam kemarin, tepatnya tanggal 5 Desember 2025, suasana di kantor DPD Partai Golkar Kabupaten Sintang terasa berbeda. Bukan sekadar perayaan biasa. Di malam itu, mereka menggelar doa bersama sebagai puncak rangkaian HUT ke-61 partai. Acara itu sendiri lebih dari sekadar syukuran; fokusnya justru tertuju pada keprihatinan terhadap nasib saudara-saudara di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara yang sedang dilanda banjir.

Menurut Ketua DPD setempat, Usmandy, peringatan ulang tahun kali ini memang sengaja diarahkan pada hal-hal yang lebih manusiawi. Lebih menyentuh langsung kehidupan masyarakat.

“Kami buka rangkaian HUT dengan bakti sosial. Ada pasar murah, juga pengobatan gratis untuk warga Sintang. Ini komitmen nyata Golkar, hadir dan bermanfaat. Itu inti dari karya kekaryaan kami,” jelas Usmandy.

Di sisi lain, doa bersama malam itu benar-benar khidmat. Para kader yang hadir serius memanjatkan doa untuk para korban banjir di Sumatera. Harapannya jelas: agar para penyintas diberi kekuatan hati dan bantuan yang memadai untuk bisa bangkit kembali. Bencana itu, kata mereka, menyentuh rasa kemanusiaan siapa pun.

“Lewat doa ini, kami cuma bisa memohon pada Yang Maha Kuasa. Semoga saudara-saudara kita yang kena musibah diberi ketabahan dan bantuan yang cukup untuk pulih,” tambah Usmandy lagi.

Ada satu momen spesial dalam doa itu. Mereka juga mengungkapkan rasa syukur atas penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden kedua RI, Soeharto. Bagi para kader, penghargaan itu dinilai sebagai bentuk pengakuan atas jasa-jasa almarhum semasa hidupnya.

Tak lupa, doa khusus juga dipanjatkan untuk Sintang sendiri. Mereka memohon agar kabupaten ini selalu dalam lindungan, jauh dari bencana, dan terus rukun dalam perbedaan. Harapan untuk tanah kelahiran selalu punya tempat tersendiri.

Suasana haru jelas terasa sepanjang acara berlangsung. Solidaritas dan kepedulian sosial itu seperti menjadi benang merah yang menyatukan. Perayaan ke-61 ini, pada akhirnya, lebih dari sekadar seremoni. Ini adalah momentum untuk menunjukkan bahwa nilai kekaryaan itu nyata, bukan cuma di atas kertas, tapi dalam aksi peduli terhadap sesama.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar