Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, memberi penjelasan lebih teknis. Hujan lebat itu membuat debit air di Sungai Gelis, Piji, dan Dawe melonjak drastis.
“Luapan air dari ketiga sungai tersebut tidak dapat tertampung oleh alur sungai dan sistem drainase yang ada, sehingga menggenangi permukiman warga serta sejumlah fasilitas umum,” jelas Abdul Muhari.
Dampaknya luas. Enam kecamatan di Kudus merasakan langsung imbasnya: Mejobo, Kota, Jekulo, Bae, Dawe, dan Gebog. Di awal kejadian, air bisa setinggi lutut orang dewasa, merendam rumah warga, jalan, jembatan, sampai sawah-sawah di sepanjang aliran sungai.
“Berdasarkan data sementara yang masih dalam proses pendataan, banjir ini berdampak pada sekitar 4.668 kepala keluarga atau 14.143 jiwa,” kata Abdul.
Angka kerusakannya juga signifikan. Sekitar 4.668 rumah terdampak, 65 ruas jalan tergenang, beberapa jembatan rusak, dan tidak kurang dari 120 hektar sawah ikut terendam banjir Kudus-Pati ini.
Kini, sebagian besar genangan di Kudus dilaporkan mulai surut. Namun begitu, situasi belum sepenuhnya normal. Beberapa desa di Kecamatan Mejobo, misalnya, masih terendam air dengan ketinggian bervariasi antara 5 hingga 50 sentimeter. Perjalanan menuju pulih tampaknya masih butuh waktu.
Artikel Terkait
Enam Jam Terjebak Macet: Perjalanan Cibinong-Kuningan yang Berubah Jadi Ujian Kesabaran
Anggaran Rp113 Miliar untuk Penataan Rasuna Said Dikritik: Mark Up atau Hitungan Keliru?
Balita Tewas Terseret Sungai Perak, Korban Banjir-Longsor Kudus Bertambah Tiga Jiwa
Pemerintah Desak Daerah Antisipasi Lonjakan Harga Jelang Ramadan 2026