Sepi di Balik Rimbun Pisang: Kisah Mbah Srinah dan Rumah yang Tak Pernah Jadi Miliknya

- Senin, 12 Januari 2026 | 11:06 WIB
Sepi di Balik Rimbun Pisang: Kisah Mbah Srinah dan Rumah yang Tak Pernah Jadi Miliknya

Di tengah rimbunnya perkebunan pisang, berdiri sebuah rumah reyot. Itulah tempat Mbah Srinah, 68 tahun, bertahan dari gempuran kemiskinan. Perempuan sepuh asal Desa Tunjungrejo, Pati ini menjalani hari-harinya sendiri, seringkali hanya mengandalkan belas kasih tetangga.

Sudah lebih dari sepuluh tahun ia hidup dalam kekurangan, tanpa keluarga di sisinya. Rumahnya kecil, cuma sekitar 3 x 4 meter, dan kondisinya jauh dari kata layak. Dinding kalsiboardnya penuh jamur dan retak-retak. Atap asbesnya bocor di mana-mana. Yang paling memprihatinkan, tak ada kamar mandi atau sanitasi yang layak di sana.

Di dalam, ruangan sempit itu cuma dibagi dua. Satu bagian dipakai untuk tidur kasurnya pun baru dapat dari bantuan warga. Ruang satunya lagi berantakan, penuh dengan perabotan usang yang digeletakkan begitu saja. Mau tak mau, teras depan pun disulap jadi dapur sederhana.

Suami Meninggal, Warga Bantu

Menurut sejumlah saksi, rumah itu sebenarnya bukan milik Mbah Srinah. Bangunannya berdiri di atas tanah milik warga lain. Dulunya, masyarakat sekitar dan perangkat desa yang membangunnya sekadar untuk tempat berteduh, karena iba melihat kondisinya.

Mbah Srinah benar-benar sebatang kara sejak suaminya wafat sekitar tiga tahun silam. Rasanya sepi. Dua anaknya tinggal jauh, satu di Tayu, satu lagi di Jepara. Mereka hanya datang sesekali.

“Anak-anak mpon do omah-omah. Wes dadi wong, mboke seng gak dadi wong,” ucapnya lirih, suaranya bergetar, pada suatu Jumat di awal Januari lalu.

Anak-anak Serumah dengan Mertua

Sebenarnya, anak-anaknya pernah mengajak Mbah Srinah untuk ikut tinggal bersama. Tapi dia menolak. Alasannya sederhana: ia tak enak hati. Soalnya, anak-anaknya itu tinggal serumah dengan mertuanya.

“Mboten krasan ah. Morotuane kumpul. Mundak ditukari mengken,” katanya, setengah bergurau tapi mata sayu.


Halaman:

Komentar