Di Auditorium Mutiara STIK/PTIK Polri, Jakarta Selatan, Kamis sore kemarin, suasana buka puasa bersama terasa hangat. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo hadir berdialog dengan perwakilan ormas, OKP, dan mahasiswa. Dalam kesempatan itu, pesan utamanya jelas: Polri ingin dipandang sebagai mitra dan sahabat bagi masyarakat, bukan sekadar penjaga.
“Hubungan antara Polri dan masyarakat sipil itu setara,” tegas Sigit. Menurutnya, rasa saling menghargai harus terus dibangun.
“Untuk itu, saya titip, jadikan Polisi sebagai mitra dan sahabat dari masyarakat,” tuturnya lagi.
Jenderal Sigit kemudian menggambarkan ikatan yang dalam antara institusinya dengan rakyat. Dia menyebut Polri dan masyarakat sipil adalah “anak kandung reformasi”. Keduanya, katanya, lahir dari perjuangan demokrasi yang punya tanggung jawab moral mengawal perjalanan bangsa. Pasca 1998, ruang partisipasi memang terbuka lebar. Ormas dan mahasiswa hadir sebagai pilar penjaga nilai-nilai demokrasi, sementara Polri mendapat amanat menjaga keamanan dan kondusifitas.
Namun begitu, tugas itu bukan hal yang mudah. Sigit mengakui, paradigma Polri kini berubah. Dulu fokusnya menjaga, sekarang lebih ke melayani. Dia sudah memerintahkan jajarannya untuk membuka ruang dan memfasilitasi aspirasi masyarakat. “Agar aspirasi tersebut betul-betul bisa tersampaikan,” jelasnya. Polri, siap menjadi fasilitator dan mediator agar segala proses berjalan aman dan tertib.
Di sisi lain, dia juga mengingatkan adanya ancaman. Ruang demokrasi yang terbuka harus dijaga bersama, jangan sampai disusupi pihak-pihak tertentu yang punya agenda lain. Jika tidak, akibatnya bisa runyam.
“Yang terjadi justru nanti akan terjadi chaos,” kata Sigit, menyebutkan risiko terhadap keselamatan jiwa, fasilitas publik, dan stabilitas keamanan.
Dampaknya bisa merembet kemana-mana. Stabilitas ekonomi bisa terganggu. Bahkan, jika dibiarkan berlarut, bukan mustahil memicu perpecahan bangsa dan kemunduran di berbagai bidang. “Yang tentunya akan merugikan seluruh masyarakat, bangsa, dan negara,” imbuhnya.
Maka, di akhir pesannya, Sigit mengajak semua pihak bersatu. Persatuan itu, menurutnya, modal kunci untuk mengawal demokrasi dan mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045. Ajakan itu disampaikannya bukan sebagai komando, tapi lebih sebagai ajakan dari seorang sahabat yang ingin bangsa ini maju bersama.
Artikel Terkait
KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Bos PT Maktour dalam Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji
Ular King Kobra Sepanjang Empat Meter Dievakuasi dari Garasi Rumah Warga Bogor
Allano Lima Resmi Tinggalkan Persija, Ungkap Keinginan Bertahan Namun Keputusan Bukan di Tangannya
NasDem Apresiasi Momen Kedekatan Prabowo dan Megawati: Teladan bagi Negarawan