Nama Tasya Kamila ramai lagi di linimasa. Pemicunya, unggahan sang artis yang melaporkan kontribusinya sebagai alumni penerima beasiswa LPDP. Postingan itu langsung viral, ditandai suka ratusan ribu kali. Tapi, di balik angka yang fantastis itu, tanggapan warganet justru beragam. Banyak yang apresiatif, tapi tak sedikit yang sinis.
Inti kritikannya sebenarnya sederhana: sebagian netizen merasa apa yang sudah dilakukan Tasya belum sepadan dengan biaya besar yang dikeluarkan negara untuk pendidikannya di Columbia University, Amerika Serikat. Beasiswa LPDP kan bukan main-main jumlahnya. Namun begitu, dari pihak Tasya sendiri, komitmen untuk memberi kembali pada Indonesia terus ditegaskan.
Nah, sebelum kita bahas lebih jauh, mungkin ada baiknya kilas balik dulu soal riwayat pendidikannya.
Perempuan bernama lengkap Shafa Tasya Kamila ini memang sudah akrab di layar kaca sejak kecil. Lahir di Jakarta, 22 November 1992, kariernya dimulai dari bintang iklan. Namanya melejit di awal 2000-an. Tapi di tengah kesibukan sebagai publik figur, Tasya rupanya tetap fokus pada sekolah. Setelah lulus SMA, ia masuk Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, ambil jurusan Akuntansi. Hebatnya, ia bisa menyelesaikan S1 hanya dalam waktu 3,5 tahun dan lulus dengan predikat cum laude di tahun 2014.
Dua tahun kemudian, kesempatan emas datang. Tasya berhasil mendapat beasiswa penuh dari LPDP untuk melanjutkan studi S2 di Columbia University. Program yang diambilnya adalah Public Administration. Proses seleksinya tentu tidak mudah; harus melalui tahap administrasi, tes, sampai wawancara ketat. Pengalamannya melalui tahapan ini bahkan sempat diunggah di channel YouTube-nya. Ia juga rajin membagikan cuplikan kehidupan akademiknya selama di New York.
Pada 2018, studinya resmi berakhir. Tasya berhasil meraih gelar Master of Public Administration, lagi-lagi dengan predikat cum laude dan IPK di atas 3.7. Semuanya didanai oleh LPDP.
Lalu, setelah pulang ke Indonesia, apa yang dilakukannya?
Pasca studi, Tasya terlihat aktif di beberapa kegiatan. Fokusnya kebanyakan di isu lingkungan dan pendidikan. Ia juga tetap menjalani peran sebagai public figure dan tentu saja, sebagai ibu keluarga. Di berbagai kesempatan, ia kerap menekankan bahwa kontribusinya untuk tanah air bukan proyek sesaat.
“Kontribusi buat Indonesia adalah komitmen seumur hidup,”
begitu katanya suatu kali.
Jadi, cerita Tasya Kamila ini sebenarnya memberi satu gambaran menarik. Bahwa seorang selebriti pun punya peluang untuk memanfaatkan beasiswa negara, meningkatkan kapasitas diri, dan pada akhirnya diharapkan bisa memberi kembali ke masyarakat. Jalan dan bentuk kontribusinya mungkin masih akan terus diperdebatkan, tapi perjalanannya sampai sejauh ini sudah cukup menginspirasi banyak orang.
Artikel Terkait
Ziva Magnolya Kejutkan Penonton Java Jazz 2026 dengan Lagu Legendaris ‘Spain’
Vilmei Buka Suara soal Putus dari Willie Salim, Singgung soal Kurang Dihargai
Dokter Tegaskan Vaksin Meningitis dan Japanese Encephalitis Berbeda, Pemberiannya Sesuai Risiko Perjalanan
Puluhan Perempuan Antusias Ikuti Pound Fit X MusicZone di Jakarta, Jadi Andalan Redakan Stres