Empat Fenomena Astronomi Warnai Langit Indonesia Sepanjang Juni 2026, dari Hujan Meteor hingga Strawberry Moon

- Minggu, 31 Mei 2026 | 16:20 WIB
Empat Fenomena Astronomi Warnai Langit Indonesia Sepanjang Juni 2026, dari Hujan Meteor hingga Strawberry Moon

Memasuki Juni 2026, langit malam dan siang hari di Indonesia akan dihiasi oleh serangkaian fenomena astronomi yang menarik untuk diamati, mulai dari hujan meteor, titik balik Matahari, hingga kemunculan Bulan Purnama yang dikenal sebagai Strawberry Moon. Bagi para penggemar astronomi, momen-momen ini menjadi kesempatan berharga untuk menyaksikan peristiwa langit yang jarang terjadi, meskipun beberapa di antaranya memerlukan kondisi cuaca yang mendukung agar dapat terlihat dengan jelas.

Fenomena pertama yang patut dinantikan adalah hujan meteor Arietid yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Rabu, 10 Juni 2026. Hujan meteor ini dikenal sebagai salah satu yang paling aktif di antara hujan meteor siang hari, namun sayangnya cukup sulit diamati secara langsung karena sebagian besar meteor muncul saat Matahari masih berada di atas cakrawala. Meski demikian, fenomena ini tetap menarik karena berasal dari aliran debu dan partikel yang ditinggalkan komet saat melintasi orbitnya.

Sementara itu, pada Minggu, 21 Juni 2026, akan terjadi titik balik Matahari atau solstis Juni, sebuah peristiwa ketika Matahari mencapai posisi paling utara di langit jika diamati dari Bumi. Peristiwa ini menandai awal musim panas di belahan Bumi utara dan awal musim dingin di belahan Bumi selatan, serta menjadikan tanggal tersebut sebagai hari dengan durasi siang terpanjang dalam setahun bagi wilayah di belahan utara. Fenomena ini dapat diamati tanpa alat bantu khusus, asalkan cuaca cerah.

Di sisi lain, hujan meteor Juni Bootid akan mencapai puncaknya pada Sabtu, 27 Juni 2026. Hujan meteor ini berasal dari sisa material komet 7P/Pons-Winnecke yang memasuki atmosfer Bumi, namun memiliki tingkat aktivitas yang tidak menentu. Pada beberapa tahun, jumlah meteor yang terlihat relatif sedikit, tetapi dalam kondisi tertentu aktivitasnya dapat meningkat secara signifikan, sehingga tetap layak untuk diantisipasi oleh para pengamat langit.

Fenomena penutup bulan Juni adalah Bulan Purnama Strawberry Moon yang terjadi pada Selasa, 30 Juni 2026. Nama unik ini berasal dari tradisi masyarakat adat Amerika Utara yang mengaitkan purnama bulan Juni dengan musim panen stroberi. Meskipun demikian, Bulan tidak akan tampak berwarna merah muda karena sebutan tersebut hanyalah nama tradisional, bukan indikasi perubahan warna fisik.

Selain empat fenomena utama tersebut, sepanjang Juni 2026 juga akan terjadi sejumlah peristiwa astronomi lain yang tak kalah menarik. Pada 8 Juni, misalnya, akan terlihat Bulan Kuartal Akhir, disusul keesokan harinya oleh konjungsi Bulan dengan Saturnus dan posisi Bulan yang berada dekat Neptunus serta titik apogee atau titik terjauh dari Bumi. Pada 10 Juni, akan terjadi konjungsi Bulan dengan Mars dan Bulan berada dekat Uranus, sementara pada 15 Juni, Bulan Baru dan Bulan di titik perigee atau titik terdekat dengan Bumi akan menjadi sorotan.

Lebih lanjut, pada 17 Juni, langit akan diramaikan oleh konjungsi Bulan dengan Venus dan Jupiter, serta Bulan yang berada dekat gugus bintang Pleiades dan bahkan okultasi Bulan terhadap gugus bintang tersebut. Terakhir, pada 21 Juni, Bulan Kuartal Pertama akan melengkapi rangkaian fenomena langit di bulan ini. Semua peristiwa ini dapat diamati dari Indonesia, terutama jika kondisi cuaca mendukung dan langit tidak tertutup awan tebal.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler